Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen Romantis

Janji yang Terlambat, Awal yang Tak Pernah Direncanakan

Gambar
Cicay duduk tegak di kursi taman yang dicat putih, jemarinya melingkar anggun pada gagang cangkir porselen. Gaun merah bermotif bunga yang dikenakannya tampak terlalu rapi untuk sekadar minum teh sendirian. Namun, memang itulah rencananya—setidaknya, sampai sepuluh menit yang lalu. Ia melirik jam kecil di meja. Jarumnya seolah sengaja bergerak lambat, seperti sedang menikmati penderitaan ringan seseorang yang menunggu. “Kalau saja jam ini bisa diajak kompromi,” gumamnya pelan, sebelum menyesap teh yang mulai kehilangan hangatnya. Di hadapannya, kursi kosong tetap setia tak terisi. Padahal, seseorang telah berjanji akan datang tepat waktu. Cicay menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Mungkin dia tersesat… atau terlalu lama memilih sepatu,” pikirnya, mencoba bersikap adil. Seekor kupu-kupu melintas, hinggap sebentar di tepi meja, lalu pergi tanpa pamit. Cicay menatapnya, lalu tertawa kecil. “Bahkan kupu-kupu pun lebih tepat waktu daripada manusia tertentu,” ujarnya se...

Cinta di Balik Layar

Gambar
Cerpen oleh Diono Pieter Rianto dan Freya JKT48 Luna berdiri di tengah panggung megah, diselimuti cahaya yang berputar pelan, bagaikan bintang yang menggantung rendah hanya untuknya. Suaranya meluncur lembut, namun tegas, memenuhi ruangan yang dipadati ribuan mata berbinar. Ia adalah vokalis utama dari grup idola terkenal bernama Girl’s Dream. Setiap nada yang keluar darinya selalu berhasil menyalakan semangat para penggemar yang menunggu dengan sabar untuk menyaksikan penampilan sang idola pujaan. Walaupun banyak yang ingin mendekat, Luna selalu terasa jauh. Ia tersenyum, melambaikan tangan, namun hatinya seperti terkurung di balik layar gemerlap yang menciptakan jarak antara dirinya dan dunia nyata. Orang-orang hanya melihat pesona dan keberhasilannya, tetapi tidak seorang pun mengerti kesendirian yang mengintip di balik sorot matanya. Di antara kerumunan wajah, ada satu sosok yang selalu muncul di setiap konser, duduk di bagian yang sama, dan membawa hadiah berbeda setiap kese...

Cinta di Antara Dua Dunia

Gambar
Vivi, seorang artis yang wajahnya selalu menghiasi layar televisi dan papan reklame besar di sudut-sudut kota, tampak seperti perempuan paling bahagia di dunia. Penggemar berteriak setiap kali ia melambaikan tangan. Jadwalnya padat seperti roti lapis isi tiga—sempit, berjejal, dan sulit bernapas. Semua orang berpikir ia telah mencapai puncak hidup yang sempurna. Namun di balik senyumnya yang selalu terpajang, Vivi merasa ada ruang kosong di dadanya. Ruang yang selalu menuntut untuk diisi, tetapi ia sendiri tidak tahu dengan apa. Ia pernah mencoba mengisi kekosongan itu dengan belanja barang mahal. Hasilnya? Lemari penuh, hati tetap bolong. Ia pernah mencoba makan makanan paling mewah di restoran terkenal. Tapi tetap saja, rasa hambar itu bertahan di lidahnya—entah dari makanan atau dari hidupnya sendiri. “Sepertinya aku ini populer, tapi sendirian”, gumamnya suatu malam, sambil memeluk bantal berbentuk alpukat yang ia beri nama Pak Avo. Bantal itu tentu tidak bisa menja...

Rahasia Bunga yang Tertinggal (lanjutan)

Gambar
Hari-hari berikutnya, Livia dan Raka semakin sering bertemu di taman tua itu. Percakapan mereka ringan, mulai dari cerita makanan favorit hingga keisengan siapa yang bisa menebak jumlah merpati yang datang sore itu. Namun di balik tawa mereka, Livia menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan. Suatu sore, ketika langit mulai berwarna ungu, Raka akhirnya bertanya, "Livia… kenapa selalu krisan putih? Seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan." Livia terdiam, menunduk memandangi buket di pangkuannya. "Krisan ini… bukan sekadar bunga," katanya pelan. "Setiap kelopaknya mewakili janji yang belum kutepati." Raka mengerutkan kening. "Janji pada siapa?" Livia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecut. "Seseorang yang sangat berarti. Dan aku belum siap kalau kamu tahu semuanya sekarang." Raka tidak mendesak, hanya berkata, "Aku akan menunggu. Sama seperti aku penasaran dengan cerita yang belum selesai itu." Livia ter...

Rahasia Bunga yang Tertinggal

Gambar
Sore itu, langit mulai berwarna jingga, seolah malu-malu untuk beranjak ke malam. Di tepi taman tua yang jarang dikunjungi orang, duduklah seorang gadis dengan gaun merah menyala. Di pangkuannya, setangkai besar bunga krisan putih berdesakan, seakan mereka juga ingin ikut berbicara. Gadis itu, yang semua orang kenal sebagai Livia, tampak seperti sedang menunggu sesuatu—atau seseorang. Namun, dari tatapan matanya, yang ada hanyalah bayangan kenangan yang tak ingin dia lepaskan. "Bunga ini terlalu berat, atau aku yang terlalu lemah?" gumam Livia sambil tersenyum tipis. Seekor kucing liar mendekat, mengendus ujung gaunnya, lalu pergi begitu saja, mungkin kecewa karena tak ada makanan di sana. Orang-orang yang melintas sering bertanya-tanya: mengapa setiap minggu Livia datang ke taman ini, selalu dengan buket bunga yang sama? Tak seorang pun berani menanyakan langsung, takut jawaban yang didapat justru membuat mereka tak bisa tidur malam itu. Hari itu angin bert...

Senja di Antara Gedung-Gedung

Gambar
Di tengah hiruk pikuk kota yang sibuk dan tak pernah tidur, seorang perempuan berdiri diam di trotoar, seolah menjadi jeda dalam paragraf panjang kehidupan metropolitan. Namanya adalah Nara. Rambutnya merah keemasan disanggul rapi, senyumnya tipis tapi cukup untuk membuat tukang ojek di seberang jalan hampir lupa menarik gas. Hari itu ia mengenakan gaun kuning mustard yang mencolok, bukan karena ingin diperhatikan, tapi karena katanya, “kalau warnanya cerah, nasib juga jadi cerah.” Teori yang belum terbukti secara ilmiah, tapi cukup ampuh membuatnya percaya diri. Nara bukan siapa-siapa di kota ini, tapi juga bukan sembarang orang. Ia bekerja sebagai ilustrator freelance, lebih sering menggambar burung daripada mengurus surat pajak. Tapi yang membuatnya menarik bukan pekerjaannya, melainkan tatapannya—penuh rahasia, seperti lemari tua yang tak semua lacinya boleh dibuka. Sore itu, ia sedang menunggu seseorang. Atau mungkin sesuatu. Ia melirik jam tangan—tiga menit lewa...

Sepeda Tua, Cinta Muda

Gambar
Pagi itu, udara di Kampung Cempaka begitu segar, seolah Tuhan sendiri baru saja menyalakan kipas angin langit. Burung-burung bernyanyi dengan nada yang bahkan bisa membuat radio butut Pak RW merasa tidak berguna. Di antara suara alam yang merdu, suara kring... kring... sepeda tua berderit melaju perlahan melewati gang sempit yang dipenuhi jemuran dan anak-anak bermain kejar-kejaran. Sepeda itu milik Seno, pemuda dua puluh lima tahun yang terkenal di kampung bukan karena prestasi akademis atau kekayaan, melainkan karena sepeda birunya yang tua, lengkap dengan keranjang anyaman di bagian depan. Sepeda itu bukan sekadar alat transportasi; itu adalah saksi bisu segala ambisi Seno, dari mengantar gorengan ke warung Mak Narti sampai... mengantar hati. Di boncengan sepeda itu duduk seorang gadis bernama Rani, sahabat masa kecil Seno yang baru kembali dari kota setelah bertahun-tahun bekerja sebagai asisten editor majalah kuliner. Rambutnya yang hitam dikuncir kuda, dan mata...

Cerpen : Bangku Hari Selasa, Sepatu, Senyum, dan Sebuah Pertemuan

Gambar
Cerpen : "Kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban, tapi bangku yang nyaman dan seseorang yang duduk diam di sebelah kita." — Temukan kisah Resti dan Arvin yang dimulai dari bangku biasa, tapi membawa luar biasa.   Hari itu Selasa. Hari yang secara ilmiah terbukti paling malas untuk memulai apa pun. Tapi Resti, perempuan 29 tahun dengan sepatu hak pendek warna nude dan senyum setengah matang, justru duduk di bangku taman dengan tenang. Ia bukan pegawai kantoran yang kabur dari rapat, bukan pula pengangguran yang sedang kontemplasi hidup. Ia cuma... butuh duduk. Bangku itu, dari kayu jati yang sudah mulai berderit, berada di halaman belakang kantor tempatnya bekerja. Lokasi yang tidak terlalu ramai, tapi cukup strategis untuk diam tanpa dibilang penyendiri. Dan di sinilah semua mulai terjadi. Seorang pria datang. Kemeja biru muda, celana bahan, sepatu yang jelas-jelas belum disemir tiga minggu terakhir. Ia membawa dua cup kopi, dan entah m...

Postingan populer dari blog ini

Perempuan dengan Keranjang Bunga

Jejak Kristal Pohon Tua (Bagian 2)

Rahasia di Balik Tumpukan Jerami