Gadis dari Hutan Kenangan
Pagi itu, hutan Cemara di pinggir Desa Lembayung diselimuti kabut tipis. Burung-burung bersenandung pelan, seolah-olah mereka belum sepenuhnya bangun. Suasana tenang itu tiba-tiba berubah ketika seekor kelinci putih melompat ke jalan setapak, diikuti oleh seorang gadis dengan gaun bermotif bunga yang seakan mencuri cahaya pagi. Namanya Aira. Usianya mungkin baru delapan belas, atau sembilan belas tahun kalau dihitung dengan gaya ayam jago menghitung waktu—kadang benar, kadang terlalu cepat. Rambutnya panjang terurai, dan matanya secerah embun pagi. Ia tidak berasal dari desa, tapi semua orang di sana mengenalnya… meskipun tak satu pun dari mereka tahu dari mana sebenarnya ia berasal. Konon, Aira pertama kali muncul di hutan itu setahun lalu, duduk di atas batu besar sambil menyanyikan lagu yang tidak dikenal siapa pun. Sejak saat itu, ia sering terlihat berjalan-jalan, berbicara dengan bunga, bahkan tertawa sendiri—meski bukan karena gila, melainkan karena bunga-bunga i...