Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

Gadis dari Hutan Kenangan

Gambar
Pagi itu, hutan Cemara di pinggir Desa Lembayung diselimuti kabut tipis. Burung-burung bersenandung pelan, seolah-olah mereka belum sepenuhnya bangun. Suasana tenang itu tiba-tiba berubah ketika seekor kelinci putih melompat ke jalan setapak, diikuti oleh seorang gadis dengan gaun bermotif bunga yang seakan mencuri cahaya pagi. Namanya Aira. Usianya mungkin baru delapan belas, atau sembilan belas tahun kalau dihitung dengan gaya ayam jago menghitung waktu—kadang benar, kadang terlalu cepat. Rambutnya panjang terurai, dan matanya secerah embun pagi. Ia tidak berasal dari desa, tapi semua orang di sana mengenalnya… meskipun tak satu pun dari mereka tahu dari mana sebenarnya ia berasal. Konon, Aira pertama kali muncul di hutan itu setahun lalu, duduk di atas batu besar sambil menyanyikan lagu yang tidak dikenal siapa pun. Sejak saat itu, ia sering terlihat berjalan-jalan, berbicara dengan bunga, bahkan tertawa sendiri—meski bukan karena gila, melainkan karena bunga-bunga i...

Hari-Hari Bu Leli Di Pasar Cempaka

Gambar
Orang-orang pasar mengenalnya sebagai Bu Leli. Lengkapnya, Leli Kuswandari, pemilik lapak sayur di lorong tengah Pasar Cempaka. Kalau Anda bertanya siapa yang paling tahu harga cabe hari ini, atau siapa yang bisa menebak hujan dari aroma angin, jawabannya satu: Bu Leli. Ia bukan dukun, tapi kadang tebakan-tebakannya soal cuaca lebih akurat dari aplikasi ramalan cuaca di ponsel. Pagi itu, seperti biasa, ia sudah berdiri di depan lapaknya sejak pukul lima. Kaos merah polos dan celemek abu-abu menjadi seragam tak resminya. Rambutnya digelung seadanya, seperti simpul tak sabar dari pagi yang terlalu buru-buru. "Bu, tomatnya segar-segar ya! Baru panen?" tanya seorang ibu muda dengan kantong belanja bertuliskan "Less Plastic is Fantastic." Bu Leli mengangguk tanpa banyak bicara. Satu pelajaran penting dalam hidupnya: pembeli itu seperti juri dangdut. Mereka lebih suka ekspresi daripada argumen. Maka senyum dan anggukan, dua kombinasi itu cukup untuk memb...

Surat-Surat Pak Darma

Gambar
Hari itu, langit di atas Kampung Senggol tampak cerah seperti wajah anak SD yang baru saja dapat es krim. Burung-burung berkicau seakan sedang ikut rapat RT, dan angin bertiup pelan, cukup untuk membuat jemuran Ibu Sari berputar-putar seperti kipas angin rusak. Di rumah nomor 7—yang bisa dikenali dari suara decit pagarnya yang legendaris—tinggallah seorang pria paruh baya bernama Pak Darma. Usianya sudah lewat kepala lima, tapi gaya rambutnya masih model "sisir rapi ke samping dengan harapan masa depan cerah". Ia dikenal sebagai pria sederhana, rajin, dan punya kebiasaan unik: menulis surat. Setiap pagi, setelah menyeduh kopi hitam pekat dan menyantap pisang goreng buatan sendiri (yang lebih sering gosong daripada tidak), Pak Darma akan duduk di kursi kayu andalannya. Kursi itu sudah sedikit miring ke kiri, mungkin karena terlalu sering dipakai merenung nasib negara. Di hadapannya ada meja tua yang kalau diketuk tiga kali, bisa memanggil kenangan masa muda. ...

Postingan populer dari blog ini

Perempuan dengan Keranjang Bunga

Jejak Kristal Pohon Tua (Bagian 2)

Rahasia di Balik Tumpukan Jerami