Perempuan dengan Keranjang Bunga


📚 Temukan cerita yang menyentuh hati, petualangan yang menggugah jiwa, dan imajinasi tanpa batas.


Pagi itu, Mirelle duduk di teras rumah sambil memandangi keranjang bunga di samping kakinya. Mawar kecil, krisan putih, dan beberapa tangkai lavender tersusun rapi di dalam anyaman rotan yang mulai memudar warnanya.

Ia menghela napas panjang.

“Kalau hari ini masih tidak laku, mungkin aku harus jual gorengan saja,” gumam Mirelle pelan.

Dari dalam rumah, suara neneknya langsung menyahut, “Kamu bikin gorengan saja pernah gosong sampai panci ikut matang,” kata neneknya sambil tertawa kecil.

Mirelle menutupi wajahnya dengan tangan. Ia tidak bisa membantah. Percobaan terakhirnya membuat pisang goreng memang berakhir tragis. Bahkan kucing tetangga pun menolak mencicipinya.

Sejak tiga bulan terakhir, Mirelle mencoba membuka jasa rangkaian bunga kecil-kecilan. Awalnya hanya iseng mengisi waktu setelah menyelesaikan kuliahnya. Namun tanpa diduga, beberapa orang mulai menyukai hasil buatannya.

Sayangnya, pesanan belum cukup stabil.

Kadang ramai, kadang sepi seperti jalan kampung saat hujan deras.

Hari itu, Mirelle berencana membuka lapak kecil di taman kota. Ia mengenakan kardigan merah muda favoritnya dan rok panjang bermotif bunga. Penampilannya sederhana, tetapi selalu membuat orang merasa nyaman melihatnya.

“Jangan lupa senyum,” ujar neneknya sambil menyerahkan botol minum.

“Aku jual bunga, Nek. Bukan ikut lomba keramahan,” jawab Mirelle sambil terkekeh.

“Wajahmu sudah cukup ramah. Tinggal jangan cemberut saja,” balas neneknya santai.

Mirelle tertawa kecil sebelum akhirnya berangkat membawa keranjang bunga.

Taman kota pagi itu cukup ramai. Anak-anak berlarian, beberapa orang sibuk berolahraga, dan pedagang minuman mulai membuka payung dagangan mereka.

Mirelle memilih duduk di dekat pohon besar yang teduh. Satu jam berlalu., belum ada pembeli. Dua jam berlalu, masih belum ada pembeli. Ia mulai menatap bunga-bunganya dengan rasa iba.

“Apa kalian terlalu cantik sampai orang takut beli?” bisik Mirelle pelan kepada bunga-bunganya.

Tiba-tiba seorang pria muda berhenti di depannya.

“Permisi,” kata pria itu sambil menunjuk keranjang bunga. “Kalau saya beli satu, dapat bonus semangat hidup juga?”

Mirelle mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar tersenyum.

──◇❖◇──

Pria itu berdiri santai sambil membawa dua kantong belanja dan segelas es kopi yang tinggal setengah. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru kalah perang melawan angin pagi.

Mirelle memicingkan mata.

“Kalau beli bunga dapat semangat hidup, harganya naik dua kali lipat,” kata Mirelle sambil melipat tangan di depan dada.

Pria itu tertawa kecil. “Wah, mahal juga ya hidup ini,” jawabnya santai.

Jawabannya membuat Mirelle ikut tertawa. Entah kenapa, suasana hatinya yang tadi muram perlahan membaik.

Pria itu lalu jongkok di depan lapaknya dan memperhatikan bunga-bunga kecil yang tersusun rapi.

“Ini kamu yang merangkai sendiri?” tanyanya penasaran.

“Iya,” jawab Mirelle singkat.

“Bagus,” ucap pria itu sambil mengangguk pelan.

Mirelle mendadak salah tingkah. Ia pura-pura merapikan pita di keranjang agar tidak terlihat gugup.

“Namamu siapa?” tanya pria itu lagi.

“Mirelle,” jawabnya.

“Saya Gavin,” balas pria itu sambil mengulurkan tangan.

Mereka berjabat tangan singkat.

Gavin akhirnya membeli satu rangkaian bunga kecil berisi lavender dan krisan putih. Namun anehnya, setelah membayar, ia malah masih berdiri di sana.

Mirelle mulai curiga.

“Kenapa?” tanya Mirelle heran.

“Saya bingung,” jawab Gavin sambil menggaruk tengkuknya.

“Bingung apa?” tanya Mirelle lagi.

“Ini bunganya buat siapa ya?” jawab Gavin dengan wajah serius.

Mirelle menahan tawa. “Lho, tadi beli tanpa tujuan?” tanyanya heran.

“Iya. Saya cuma kasihan lihat penjualnya kelihatan mau pidato perpisahan,” jawab Gavin santai.

“Parah sekali penilaianmu,” balas Mirelle sambil tertawa kecil.

“Tapi sekarang sudah agak ceria,” kata Gavin sambil tersenyum tipis.

Percakapan mereka terus berlanjut ringan tanpa terasa. Gavin ternyata cukup pandai membuat suasana menjadi santai. Bahkan saat ia bercerita pernah salah membeli garam satu kilogram karena mengira itu gula, Mirelle sampai tertawa sambil memegangi perut.

“Terus kopinya bagaimana rasanya?” tanya Mirelle penasaran.

“Seperti air laut yang menyerah jadi minuman,” jawab Gavin dramatis.

Mirelle hampir tersedak mendengarnya.

Hari mulai siang. Beberapa orang yang lewat akhirnya ikut berhenti melihat lapak Mirelle. Mungkin karena bunga-bunganya menarik, atau mungkin karena suara tawa mereka terlalu mencolok.

Tanpa disangka, tiga rangkaian bunga terjual dalam waktu singkat. Mata Mirelle membesar. Ia menatap Gavin penuh curiga.

“Kamu jangan-jangan bawa keberuntungan,” ujar Mirelle sambil menyipitkan mata.

“Kalau iya, saya minta komisi,” balas Gavin cepat.

“Tidak ada,” jawab Mirelle tegas.

“Minimal traktir air mineral,” kata Gavin sambil tertawa.

Mirelle menggeleng sambil tersenyum kecil. Sudah lama ia tidak merasa seringan ini saat berbicara dengan orang baru.

Sebelum pergi, Gavin sempat berhenti beberapa langkah lalu menoleh.

“Oh iya,” kata Gavin santai, “besok kamu jualan di sini lagi?”

Pertanyaan sederhana itu entah kenapa membuat Mirelle diam sesaat.

“...Mungkin,” jawab Mirelle pelan.

“Bagus. Saya belum tahu bunga tadi mau diberikan ke siapa,” ujar Gavin sambil melambaikan tangan.

Mirelle menggeleng pelan sambil tersenyum sendiri melihat Gavin berjalan menjauh. Namun tanpa ia sadari, untuk pertama kalinya sejak membuka usaha bunga, ia mulai menunggu hari esok datang lebih cepat.

──◇❖◇──

Keesokan paginya, Mirelle datang lebih awal ke taman kota. Ia bahkan sempat membantu pedagang minuman memindahkan kursi plastik sebelum membuka lapaknya.

“Rajin sekali hari ini,” goda pedagang minuman sambil tersenyum jahil.

Mirelle pura-pura sibuk menyusun bunga. “Biasa saja,” jawabnya singkat.

Padahal dalam hati, ia sendiri tahu alasan datang lebih cepat. Ia penasaran apakah Gavin benar-benar akan muncul lagi. Satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda pria aneh penggemar kopi asin itu. Mirelle mulai merasa dirinya bodoh karena diam-diam menunggu seseorang yang baru dikenalnya kemarin.

“Fokus jualan, Mirelle,” gumamnya pelan kepada diri sendiri.

Hari itu cukup ramai. Beberapa pelanggan membeli bunga kecil untuk hadiah ulang tahun dan hiasan meja kerja. Mirelle mulai sibuk membungkus rangkaian bunga dengan kertas warna pastel.

Namun menjelang siang, langit mendadak gelap. Angin berembus lebih kencang.

“Waduh,” ucap Mirelle pelan sambil melihat awan mendung.

Belum sempat ia membereskan barang-barangnya, hujan turun cukup deras. Orang-orang langsung berlarian mencari tempat berteduh. Mirelle panik menutupi bunga-bunganya dengan kain plastik seadanya. Sayangnya, salah satu keranjang hampir jatuh tertiup angin.

“Tahan!” seru seseorang dari arah samping.

Seseorang tiba-tiba menangkap keranjang itu tepat waktu. Mirelle menoleh cepat. Gavin. Pria itu berdiri sambil membawa payung hitam yang ukurannya bahkan terlalu kecil untuk mereka berdua.

“Kamu muncul juga,” ucap Mirelle tanpa sadar.

Gavin tersenyum tipis. “Wah, ternyata ada yang menunggu,” godanya santai.

Mirelle langsung salah tingkah. “Bukan begitu maksudku,” bantahnya cepat.

“Tenang saja. Saya pura-pura tidak dengar,” jawab Gavin sambil tertawa kecil.

Hujan semakin deras. Mereka akhirnya duduk berdampingan di bawah tenda kecil milik pedagang minuman. Gavin membeli dua gelas teh hangat.

“Ini bayaran karena saya telat datang,” katanya sambil menyerahkan satu gelas kepada Mirelle.

“Kamu memang janji datang?” tanya Mirelle sambil menerima teh itu.

“Tidak,” jawab Gavin santai.

“Nah,” balas Mirelle cepat.

“Tapi wajahmu tadi seperti pelanggan yang komplain paketnya belum sampai,” ujar Gavin sambil tertawa kecil.

Mirelle ikut tertawa pelan sambil menggeleng.

Suasana hujan membuat taman kota terasa lebih tenang. Suara rintik air bercampur aroma tanah basah dan wangi bunga lavender dari keranjang Mirelle. Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk diam menikmati suasana. Anehnya, diam bersama Gavin tidak terasa canggung. Justru nyaman.

“Sebenarnya,” kata Gavin tiba-tiba, “kamu cocok buka toko bunga sendiri.”

Mirelle menatapnya bingung. “Toko?” tanyanya pelan.

“Iya. Tempat tetap. Bukan cuma lapak kecil seperti ini,” jawab Gavin sambil melihat deretan bunga di depan mereka.

Mirelle tersenyum tipis lalu menunduk menatap gelas tehnya.

“Itu mimpi yang lumayan jauh,” ucap Mirelle jujur.

Gavin tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang deretan bunga di depan Mirelle dengan ekspresi serius yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

“Kalau memang mimpi,” ujar Gavin pelan, “harusnya dikejar, kan?”

Ucapan itu sederhana. Namun entah kenapa, kalimat tersebut terus terngiang di kepala Mirelle bahkan setelah hujan berhenti.

──◇❖◇──

Sejak percakapan saat hujan itu, Mirelle mulai memikirkan satu hal yang sebelumnya selalu ia hindari: membuka toko bunga sendiri. Bukan lapak kecil yang bisa dipindahkan kapan saja. Bukan sekadar duduk di taman sambil berharap ada pembeli. Melainkan toko sungguhan. Dengan papan nama. Dengan rak bunga. Dengan jendela kaca yang dipenuhi tanaman kecil. Sayangnya, membayangkannya saja sudah membuat dompet Mirelle ikut sesak.

Suatu sore, ia duduk di meja makan sambil menghitung tabungan di buku catatan kecil. Setelah dihitung tiga kali, hasilnya tetap sama.

“Kesimpulannya?” tanya neneknya sambil menuangkan teh hangat.

“Aku kaya semangat, miskin uang,” jawab Mirelle sambil menjatuhkan kepala ke meja.

Neneknya tertawa sampai hampir menjatuhkan sendok. Mirelle ikut tertawa kecil, meskipun dalam hati ia tetap khawatir.

Biaya sewa tempat terlalu mahal. Belum lagi meja, rak, dan perlengkapan lainnya. Semakin dipikirkan, semakin terasa mustahil.

Keesokan harinya di taman kota, Gavin datang membawa roti isi dan ekspresi penasaran.

“Kamu kelihatan seperti orang yang baru baca tagihan listrik,” ujar Gavin sambil duduk di samping lapak Mirelle.

Mirelle menghela napas panjang. “Aku kepikiran soal toko bunga,” jawabnya jujur.

“Bagus dong,” balas Gavin santai.

“Bagus di mimpi,” ucap Mirelle sambil menatap bunga-bunganya.

Mirelle lalu menceritakan semuanya. Tentang tabungannya yang pas-pasan, tentang rasa takut gagal, dan tentang kekhawatiran kalau usahanya ternyata tidak cukup bagus. Gavin mendengarkan tanpa menyela. Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat sangat serius.

“Boleh saya kasih pendapat?” tanya Gavin pelan.

“Boleh,” jawab Mirelle.

“Kamu terlalu sibuk menghitung apa yang belum kamu punya,” ujar Gavin tenang.

Mirelle terdiam.

“Padahal,” lanjut Gavin, “pelangganmu terus bertambah. Orang-orang suka hasil rangkaianmu. Bahkan kemarin ada ibu-ibu yang memotret lapakmu diam-diam.”

“Memotret diam-diam terdengar menyeramkan,” balas Mirelle cepat.

“Itu namanya promosi gratis,” jawab Gavin sambil tertawa kecil.

Mirelle ikut tersenyum.

Namun ucapan Gavin memang ada benarnya.

Selama ini, ia terlalu fokus pada kemungkinan gagal sampai lupa melihat kemajuan kecil yang sebenarnya sudah terjadi.

“Lagipula,” kata Gavin santai sambil menggigit roti, “toko besar juga mulai dari sapu dan debu.”

“Itu motivasi atau iklan alat kebersihan?” tanya Mirelle sambil mengangkat alis.

“Dua-duanya,” jawab Gavin tanpa rasa bersalah.

Mirelle menggeleng sambil tertawa kecil.

Sore itu, tanpa sengaja, mereka berjalan mengelilingi beberapa ruko kecil di dekat taman kota. Awalnya hanya iseng melihat-lihat. Sampai Mirelle berhenti di depan sebuah bangunan mungil bercat krem. Kacanya lebar. Halamannya kecil. Dan di pojok jendelanya tergantung papan bertuliskan: DISEWAKAN.

Mirelle menatap papan itu cukup lama. Jantungnya mendadak berdebar lebih cepat. Sementara di sampingnya, Gavin malah tersenyum seolah sudah menunggu momen itu sejak awal.

──◇❖◇──

Bangunan kecil itu ternyata lebih nyaman daripada yang Mirelle bayangkan. Meskipun ukurannya tidak besar, ruangan di dalamnya terasa hangat. Cahaya matahari masuk dari jendela depan, membuat lantai kayu tampak keemasan saat sore tiba.

Mirelle berjalan perlahan sambil membayangkan rak bunga di sudut ruangan. Di dekat jendela mungkin bisa diletakkan tanaman kecil. Sementara meja kasir cukup ditempatkan di samping pintu.

“Kenapa wajahmu seperti orang yang baru menemukan kerajaan tersembunyi?” tanya Gavin sambil memperhatikan ekspresi Mirelle.

“Aku lagi membayangkan,” jawab Mirelle pelan.

“Bahaya. Biasanya kalau orang mulai membayangkan, dompet langsung menangis,” ujar Gavin santai.

Mirelle tertawa kecil.

Pemilik bangunan memberi harga sewa yang masih masuk akal, meskipun tetap membuat Mirelle harus berpikir keras. Ia meminta waktu beberapa hari untuk mempertimbangkannya.

Sepanjang perjalanan pulang, kepala Mirelle dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau tokonya sepi? Bagaimana kalau uangnya habis? Bagaimana kalau gagal total? Namun di sisi lain, untuk pertama kalinya, mimpi itu terasa nyata.

Malamnya, Mirelle duduk bersama neneknya di ruang tengah sambil menunjukkan foto bangunan tadi. Neneknya memperhatikan cukup lama.

“Menurutmu bagaimana?” tanya Mirelle pelan.

“Kalau menurutku,” jawab neneknya santai, “tempatnya cocok.”

“Cuma itu?” tanya Mirelle heran.

“Kamu sudah memutuskan di dalam hati. Kamu cuma mencari orang untuk ikut mengangguk,” ujar neneknya sambil tersenyum tipis.

Mirelle langsung diam. Kalimat itu terlalu tepat.

Keesokan harinya, Gavin datang membawa sebuah kantong panjang yang dibungkus koran bekas.

“Apa ini?” tanya Mirelle bingung.

“Buka saja,” jawab Gavin singkat.

Saat dibuka, ternyata isinya papan kayu kecil yang sudah dicat putih. Di tengahnya tertulis dengan huruf cokelat: MIRELLE FLOWERS. Mata Mirelle membesar.

“Kamu buat ini?” tanya Mirelle tidak percaya.

“Semalaman,” jawab Gavin sambil menguap kecil.

“Pantes matamu seperti kurang tidur,” ujar Mirelle sambil tertawa pelan.

“Saya sempat salah menulis jadi ‘Mie Relly Flowers’,” kata Gavin sambil menggaruk kepala.

Mirelle tertawa begitu keras sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka. Namun perlahan tawanya berubah menjadi senyum diam. Ia mengusap tulisan di papan kayu itu pelan. Untuk pertama kalinya, impiannya terasa benar-benar hidup.

“Gavin,” panggil Mirelle lirih, “kalau nanti tokonya jadi...”

“Hm?” sahut Gavin sambil menoleh.

“Kamu harus datang saat pembukaan,” ujar Mirelle pelan.

Gavin tersenyum kecil. “Kalau tidak diundang pun saya datang,” jawabnya santai.

Jawaban sederhana itu membuat pipi Mirelle menghangat tanpa alasan jelas. Namun sebelum ia sempat membalas, ponsel Gavin tiba-tiba berdering. Ekspresi pria itu berubah sesaat setelah melihat layar. Sangat singkat. Tetapi cukup membuat Mirelle menyadarinya. Dan entah kenapa, perasaan tidak tenang mulai muncul di dalam hatinya.

──◇❖◇──

Dua minggu kemudian, toko kecil itu akhirnya resmi dibuka. Papan kayu bertuliskan “MIRELLE FLOWERS” tergantung rapi di depan pintu kaca. Aroma lavender dan bunga segar memenuhi ruangan kecil yang hangat itu.

Mirelle berdiri beberapa saat sambil memandangi tokonya sendiri. Ia masih sulit percaya. Dulu semua itu hanya mimpi kecil yang terasa mustahil. Kini, mimpi itu benar-benar ada di depannya.

“Kalau bengong terus, pelangganmu nanti takut masuk,” goda neneknya sambil merapikan pita bunga.

Mirelle tertawa kecil. “Aku cuma masih tidak percaya,” jawabnya pelan.

Hari pembukaan berjalan cukup ramai. Beberapa pelanggan datang membeli bunga, sementara yang lain sibuk memotret sudut-sudut toko yang terlihat cantik dan nyaman. Namun sejak pagi, Mirelle terus melirik pintu masuk. Gavin belum datang. Padahal biasanya pria itu selalu muncul lebih awal sambil membawa candaan aneh.

Sampai menjelang sore, lonceng kecil di atas pintu akhirnya berbunyi. Gavin masuk sambil membawa beberapa pot lavender kecil.

“Kamu telat,” protes Mirelle spontan.

“Maaf,” jawab Gavin sambil tersenyum. “Saya tadi membantu kakak pindahan rumah.”

Mirelle akhirnya menghela napas lega tanpa sadar. Gavin meletakkan pot-pot kecil itu di meja.

“Hadiah pembukaan,” ujarnya santai.

Mirelle menatapnya beberapa detik lalu tersenyum hangat.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Sore itu, mereka berdiri di depan toko sambil memandangi langit jingga.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mirelle merasa ia sedang memulai sesuatu yang benar-benar baik dalam hidupnya.

— Tamat —

──◇❖◇──

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain Batik dan Rahasia di Balik Pagar

Langkah-Langkah Lela

Jejak Kristal Pohon Tua (Bagian 2)