Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Jejak Kristal Pohon Tua (Bagian 2)

Gambar
Cerita versi komik untuk bagian 1 bisa didapatkan di: https://play.google.com/store/books/details?id=DrvTEQAAQBAJ Agnio berdiri di tengah pasar desa dengan wajah sedikit kebingungan, meskipun berusaha terlihat santai. Desa itu jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Orang-orang berlalu-lalang, suara tawar-menawar terdengar dari berbagai arah, dan aroma buah segar bercampur dengan wangi gorengan yang menggoda. Perutnya sempat berbunyi pelan, seolah ikut memberi saran agar fokusnya tidak terlalu jauh. Ia mendekati seorang pria tua penjual buah yang tampak sibuk menata dagangannya. "Pernah mendengar tempat misterius di sekitar sini?" tanya Agnio. Pria itu berhenti sejenak, menatap Agnio dari ujung kepala sampai kaki. "Kalau yang kamu maksud tempat yang bikin orang tersesat, ada. Namanya pasar ini saat akhir pekan," jawabnya datar. Agnio menghela napas pendek. "Maksud saya tempat yang tidak biasa. Sesuatu yang ... penting." Pria tua i...

Kisah Penari di Balik Selendang Biru

Gambar
Di sebuah sanggar kecil di tepian Kota Semarang, Laras setiap sore berlatih tarian Gambyong. Kebaya biru dengan motif batik parang dan selendang kuning emas selalu ia kenakan, warisan dari neneknya yang dulu penari keraton. Bagi Laras, setiap gerakan bukan sekadar tari, tapi doa yang ia lantunkan lewat tubuh. Suatu hari sanggar mendapat undangan menari di acara besar, tapi Laras justru diminta mundur. Badannya demam tinggi selama seminggu. Ia hanya bisa menatap kostum biru kesayangannya yang tergantung, sementara teman-temannya giat berlatih. Air matanya jatuh, takut mengecewakan neneknya yang selalu berpesan: "Penari sejati menari dengan hati, bukan hanya kaki" . Malam sebelum pentas, neneknya datang membawa selendang kuning itu. "Laras, nenek dulu pernah terkilir seminggu sebelum tampil di keraton," kata nenek sambil tersenyum. "Tapi nenek menari dalam hati. Membayangkan setiap ukel , ngiting , dan mendhak . Besok, menarilah dengan hatimu dulu....

Apa yang Tersisa di Dasar Cangkir

Gambar
Lina duduk di sebuah kafe kecil yang sederhana, menatap keluar jendela dengan secangkir kopi hangat di tangannya. Pagi itu, matahari baru saja naik, memantulkan cahaya ke kaca jendela sehingga membuat bayangan diagonal yang lucu. Ia mengenakan blus merah dan rok biru, dipadukan dengan sepatu kuning yang membuat beberapa orang yang lewat sempat melirik. “Wah, Lina kayak pelangi berjalan,” celetuk seorang pengunjung lain sambil tersenyum. Lina hanya terkekeh, merasa penampilannya memang agak mencolok. Di meja bundar putih tempatnya duduk, hanya ada sebuah cangkir dan piring kecil. Lina sengaja tidak membawa buku atau ponsel, karena ia ingin menikmati suasana tanpa gangguan. Ia berpikir, kadang orang terlalu sibuk dengan layar sampai lupa bahwa kopi bisa dinikmati tanpa notifikasi. Seorang pelayan lewat sambil berkata, “Kopinya jangan sampai dingin, nanti rasanya berubah jadi teh tawar.” Lina tertawa kecil, merasa humor sederhana itu justru membuat suasana lebih hangat. ...

Postingan populer dari blog ini

Perempuan dengan Keranjang Bunga

Jejak Kristal Pohon Tua (Bagian 2)

Gadis Berkepang Dua di Tepi Jalan