Sepeda Tua, Cinta Muda
Pagi itu, udara di Kampung Cempaka begitu segar, seolah Tuhan sendiri baru saja menyalakan kipas angin langit. Burung-burung bernyanyi dengan nada yang bahkan bisa membuat radio butut Pak RW merasa tidak berguna. Di antara suara alam yang merdu, suara kring... kring... sepeda tua berderit melaju perlahan melewati gang sempit yang dipenuhi jemuran dan anak-anak bermain kejar-kejaran. Sepeda itu milik Seno, pemuda dua puluh lima tahun yang terkenal di kampung bukan karena prestasi akademis atau kekayaan, melainkan karena sepeda birunya yang tua, lengkap dengan keranjang anyaman di bagian depan. Sepeda itu bukan sekadar alat transportasi; itu adalah saksi bisu segala ambisi Seno, dari mengantar gorengan ke warung Mak Narti sampai... mengantar hati. Di boncengan sepeda itu duduk seorang gadis bernama Rani, sahabat masa kecil Seno yang baru kembali dari kota setelah bertahun-tahun bekerja sebagai asisten editor majalah kuliner. Rambutnya yang hitam dikuncir kuda, dan mata...