Postingan

Gaun, Catatan, dan Senyum yang Terlambat

Gambar
Lenita berdiri di depan cermin dengan gaun berwarna gading yang jatuh rapi di bahunya. Rambutnya disanggul sederhana, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk memberi kesan rapi dan tenang. Ia menatap bayangannya sendiri, mencoba memastikan bahwa dirinya benar-benar siap, bukan hanya dari penampilan, tetapi juga dari perasaan. “Tenang saja,” gumamnya pelan, seolah berbicara kepada pantulan dirinya yang tampak sedikit tegang. Di atas meja, sebuah buku catatan terbuka dengan halaman penuh tulisan rapi. Di sana tercatat daftar tugas, ide-ide kecil, dan satu kalimat yang selalu ia baca ulang sebelum melangkah keluar rumah, “jangan lupa tersenyum, bahkan saat gugup.” Lenita tersenyum tipis. Ia menyadari dirinya sering terlalu serius. Bahkan untuk hal-hal sederhana, ia cenderung memikirkannya terlalu jauh. Pernah suatu kali ia membuat jadwal minum air yang begitu rinci hingga seorang teman berkomentar heran. Lenita hanya menjawab santai, “Tidak, hanya ingin ginjal saya merasa diharga...

Cerita yang Dimulai Tanpa Rencana Matang

Gambar
Janyne berdiri di dekat jendela, memandangi halaman yang tampak lebih rapi daripada biasanya. Ia mengenakan gaun bermotif daun dengan warna yang tenang, seolah-olah ia sengaja ingin menyatu dengan suasana pagi. Rambutnya tergerai rapi, meski ia tahu angin akan segera mengacaknya. Pagi itu terasa terlalu cerah untuk sekadar kebetulan, dan Janyne menyadarinya dengan senyum tipis yang nyaris tidak ia akui. Ia bukan tipe orang yang tergesa-gesa. Janyne percaya bahwa waktu akan bekerja lebih baik bila tidak didesak. Namun, hari ini berbeda. Sebuah undangan sederhana tergeletak di atas meja, ditulis tangan dengan tinta yang sedikit luntur. Isinya singkat, nyaris seperti catatan belanja, tetapi cukup membuat Janyne mengernyit. Ia membaca ulang, lalu tertawa kecil karena mendapati dirinya salah paham pada kalimat pertama. “Ah, rupanya aku yang terlalu serius,” gumamnya, seolah ruangan bisa mendengar dan setuju. Janyne mengambil tas kecilnya dan melangkah keluar. Di kepalanya, ren...

Meja Makan yang Tidak Pernah Sepi

Gambar
Setiap sore, ruang makan di rumah keluarga kecil itu selalu terdengar ramai, meskipun hanya diisi tiga orang: seorang ayah, seorang ibu, dan seorang anak laki-laki bernama Paradiso yang duduk paling gelisah. Di atas meja, makanan rumahan sederhana tersaji rapi: sup sayur, telur dadar, sambal yang katanya “ tidak terlalu pedas ,” namun entah bagaimana selalu membuat mata Paradiso berair seperti baru selesai menonton drama sedih. Ayahnya, seorang pria berkacamata yang tenang, selalu memulai makan dengan mengatakan, “ Makan pelan-pelan, nanti perut kaget. ” Tapi anehnya, beliau sendiri makan paling cepat. Ibu hanya tersenyum sambil mengingatkan, “ Itu kalimat untuk diri sendiri, sepertinya. ” Paradiso tertawa kecil, meski sebenarnya ia masih mencoba menenangkan lidahnya dari sambal yang katanya “ ramah anak .” Baginya, waktu makan malam bukan sekadar saat mengisi perut, melainkan saat paling hangat dalam sehari. Televisi di belakang mereka menyala pelan, menampilkan acara yang...

Di Mana Angin Bercerita

Gambar
oleh: Diono Pieter Rianto Paradissa duduk di tepi padang rumput yang lembut, membiarkan angin sore menyibakkan rambut panjangnya yang dikepang rapi. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna gading, yang tampak kontras dengan rerumputan hijau yang melambai seperti penonton setia. Dari kejauhan, suara burung-burung yang sedang berdebat ringan terdengar—setidaknya begitu menurut Paradissa, karena mereka berkicau seolah sedang membahas siapa yang paling berbakat dalam hal bersuara merdu. Hari itu, Paradissa sebenarnya ingin beristirahat. Namun, pikirannya justru sibuk memikirkan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada menentukan apakah rumput di sebelah kanan atau kiri lebih hijau. Ia tengah merencanakan perubahan besar: membuka ruang belajar alam untuk anak-anak desa. Ia ingin mengajarkan mereka mengenai tumbuhan, sungai, angin, dan semua hal sederhana yang sering luput dari perhatian. Menurutnya, alam jauh lebih sabar daripada guru mana pun. Tidak pernah bosan mengulang pel...

Saat Renee Menemukan Dirinya Sendiri

Gambar
Renee selalu percaya bahwa kebiasaan membaca di halaman depan rumah dapat memperbaiki suasana hati seketika—bahkan ketika dunia terasa seperti lembar buku yang terselip di bawah sofa: sulit dijangkau dan penuh debu. Pagi itu, ia duduk di anak tangga kayu yang hangat oleh sinar matahari, mengenakan cardigan biru kesayangannya yang entah mengapa selalu membuatnya merasa lebih bersemangat. Di pangkuannya, sebuah buku bersampul kuning terbuka, meski kenyataannya ia sudah membaca halaman yang sama selama lima menit terakhir. Penyebabnya sederhana: seekor kucing oranye dari rumah sebelah terus menatapnya seolah bertanya, “ Tidak ada makanan di sini, Tuan Oranye. Coba pintu belakang. ” Renee tertawa kecil, merasa konyol karena bernegosiasi dengan kucing lewat tatapan. Ia mengibaskan tangannya. Kucing itu hanya mengedip malas, tampak tidak terkesan. Di sampingnya, sebuah keranjang kecil berisi tiga buku lain menunggu giliran dibaca. Renee sempat bermimpi menama...

Vifreyz si Gadis Super: Misi Pertama

Gambar
Cerpen oleh Diono Pieter Rianto dan Freya JKT48 Di halaman belakang yang masih basah oleh embun pagi, Vivi berdiri terpaku sambil menatap kedua telapak tangannya. Detik-detik aneh yang baru terjadi barusan masih berputar di kepalanya: tubuhnya terangkat, melayang, lalu turun lagi seperti mimpi yang belum selesai. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya ilusi. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk melompat sekali lagi—dan kali ini tubuhnya terangkat lebih tinggi, membuatnya terhuyung karena kaget. Sementara itu, dari balik jendela, Riko masih tertidur nyenyak, belum tahu bahwa dunia kecil mereka baru saja berubah. Kegembiraan, ketakutan, dan rasa tak percaya bercampur jadi satu di dada Vivi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa lompatan kecil untuk meraih jambu merah bisa membuka pintu menuju sesuatu yang luar biasa. Setelah menarik napas panjang, ia membangunkan Riko dengan hati yang gelisah. Saat ia mengucapkan kalimat, "Aku bisa terbang…" Riko sempat me...

Cinta Abadi

Gambar
Cerpen oleh Diono Pieter Rianto dan Freya JKT48 Nina duduk di dalam kereta Argopuro yang baru saja meninggalkan Stasiun Tanah Abang. Lampu-lampu kota perlahan memudar di balik jendela, namun pikirannya justru semakin riuh. Ia merasa berat meninggalkan Jakarta—kota yang membuatnya mengenal Fredo, sekaligus kota yang menyimpan perpisahan yang belum sepenuhnya ia terima. Suara roda kereta yang berulang seperti memanggil kembali kenangan yang ia coba tinggalkan. Pintu gerbong tiba-tiba terbuka, dan seorang pemuda masuk dengan langkah tenang. Wajahnya ramah, caranya membawa diri begitu santai sehingga para penumpang otomatis memperhatikannya. Nina melihatnya sekilas, lalu cepat menunduk. Pemuda itu—Marwan—adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang dalam perjalanan menuju Pekalongan, atau setidaknya begitu yang ia sampaikan. Takdir kemudian membuatnya berhenti tepat di samping kursi Nina. Ketika Marwan duduk, keduanya saling bertukar pandang singkat yang justru membuat Nina sem...

Postingan populer dari blog ini

Kain Batik dan Rahasia di Balik Pagar

Langkah-Langkah Lela

Cerpen : Sulam Emas Di Ladang Senja