Kerupuk Jaya
Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, Jaya sudah berjalan menyusuri jalan kampung dengan dua kaleng besar yang tergantung di kedua ujung pikulannya. Kaleng itu berisi kerupuk yang telah digoreng sejak subuh oleh ibunya. Tutupnya diikat rapat agar kerupuk tetap renyah. Di pinggir jalan, anak-anak biasanya sudah menunggu. Mereka mengenali suara langkah Jaya bahkan sebelum melihat topi hijaunya. "Kerupuk, Bang Jaya!" seru Roni. "Jangan berteriak begitu. Nanti kerupuknya kaget," jawab Jaya sambil tersenyum. Anak-anak tertawa. Jaya memang pandai bercanda, tetapi urusan dagangan ia sangat teliti. Setiap keping kerupuk dihitung, setiap uang receh disimpan di kantong kain yang diikat kuat pada pinggang. Hari itu, ia membawa jenis kerupuk baru, berbentuk bulat dan sedikit lebih besar daripada biasanya. Ibunya mencoba membuatnya dari adonan yang berbeda. Jaya belum tahu apakah pembeli akan menyukainya. Ia berhenti di depan sebuah warung kecil. Pemil...