Gaun, Catatan, dan Senyum yang Terlambat
Lenita berdiri di depan cermin dengan gaun berwarna gading yang jatuh rapi di bahunya. Rambutnya disanggul sederhana, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk memberi kesan rapi dan tenang. Ia menatap bayangannya sendiri, mencoba memastikan bahwa dirinya benar-benar siap, bukan hanya dari penampilan, tetapi juga dari perasaan. “Tenang saja,” gumamnya pelan, seolah berbicara kepada pantulan dirinya yang tampak sedikit tegang. Di atas meja, sebuah buku catatan terbuka dengan halaman penuh tulisan rapi. Di sana tercatat daftar tugas, ide-ide kecil, dan satu kalimat yang selalu ia baca ulang sebelum melangkah keluar rumah, “jangan lupa tersenyum, bahkan saat gugup.” Lenita tersenyum tipis. Ia menyadari dirinya sering terlalu serius. Bahkan untuk hal-hal sederhana, ia cenderung memikirkannya terlalu jauh. Pernah suatu kali ia membuat jadwal minum air yang begitu rinci hingga seorang teman berkomentar heran. Lenita hanya menjawab santai, “Tidak, hanya ingin ginjal saya merasa diharga...