Kisah Penari di Balik Selendang Biru
Di sebuah sanggar kecil di tepian Kota Semarang, Laras setiap sore berlatih tarian Gambyong. Kebaya biru dengan motif batik parang dan selendang kuning emas selalu ia kenakan, warisan dari neneknya yang dulu penari keraton. Bagi Laras, setiap gerakan bukan sekadar tari, tapi doa yang ia lantunkan lewat tubuh. Suatu hari sanggar mendapat undangan menari di acara besar, tapi Laras justru diminta mundur. Badannya demam tinggi selama seminggu. Ia hanya bisa menatap kostum biru kesayangannya yang tergantung, sementara teman-temannya giat berlatih. Air matanya jatuh, takut mengecewakan neneknya yang selalu berpesan: "Penari sejati menari dengan hati, bukan hanya kaki" . Malam sebelum pentas, neneknya datang membawa selendang kuning itu. "Laras, nenek dulu pernah terkilir seminggu sebelum tampil di keraton," kata nenek sambil tersenyum. "Tapi nenek menari dalam hati. Membayangkan setiap ukel , ngiting , dan mendhak . Besok, menarilah dengan hatimu dulu....