Senyum di Balik Kebaya
Matahari baru saja menyengat ubin teras ketika langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan. Ratih, perempuan yang selalu tampil rapi dengan balutan kebaya putih dan kain batik berwarna cokelat keemasan itu, menghela napas panjang. Ia menatap cermin besar di ruang depan, memastikan sanggulnya tidak berantakan. Hiasan bunga kuning di sisi kiri kepalanya menjadi aksen yang manis, meskipun hatinya sedang tidak seindah penampilannya. "Astaga, jam berapa sekarang?" gumamnya sambil melirik jam dinding yang berdetak dengan santai. Hari ini adalah hari yang sangat penting. Ia dijadwalkan memimpin rapat koordinasi dengan para pengrajin batik di wilayahnya. Namun, ada satu masalah kecil yang membuatnya cemas: ia belum menyiapkan berkas presentasi yang seharusnya sudah selesai kemarin malam. Ratih memang terkenal teliti, tetapi semalam ia terjebak dalam drama komedi bersama tetangganya yang mengadakan lomba memasak tingkat gang. "Kamu ini, Ratih. Sudah pinta...