Janji yang Terlambat, Awal yang Tak Pernah Direncanakan
Cicay duduk tegak di kursi taman yang dicat putih, jemarinya melingkar anggun pada gagang cangkir porselen. Gaun merah bermotif bunga yang dikenakannya tampak terlalu rapi untuk sekadar minum teh sendirian. Namun, memang itulah rencananya—setidaknya, sampai sepuluh menit yang lalu. Ia melirik jam kecil di meja. Jarumnya seolah sengaja bergerak lambat, seperti sedang menikmati penderitaan ringan seseorang yang menunggu. "Kalau saja jam ini bisa diajak kompromi," gumamnya pelan, sebelum menyeruput teh yang mulai kehilangan hangatnya. Di hadapannya, kursi kosong tetap setia tak terisi. Padahal, seseorang telah berjanji akan datang tepat waktu. Cicay menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Mungkin dia tersesat… atau terlalu lama memilih sepatu," pikirnya, mencoba bersikap adil. Seekor kupu-kupu melintas, hinggap sebentar di tepi meja, lalu pergi tanpa pamit. Cicay menatapnya, lalu tertawa kecil. "Bahkan kupu-kupu pun lebih tepat waktu daripada manusi...