Janji yang Terlambat, Awal yang Tak Pernah Direncanakan

Cicay duduk tegak di kursi taman yang dicat putih, jemarinya melingkar anggun pada gagang cangkir porselen. Gaun merah bermotif bunga yang dikenakannya tampak terlalu rapi untuk sekadar minum teh sendirian. Namun, memang itulah rencananya—setidaknya, sampai sepuluh menit yang lalu.

Ia melirik jam kecil di meja. Jarumnya seolah sengaja bergerak lambat, seperti sedang menikmati penderitaan ringan seseorang yang menunggu. “Kalau saja jam ini bisa diajak kompromi,” gumamnya pelan, sebelum menyesap teh yang mulai kehilangan hangatnya.

Di hadapannya, kursi kosong tetap setia tak terisi. Padahal, seseorang telah berjanji akan datang tepat waktu. Cicay menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Mungkin dia tersesat… atau terlalu lama memilih sepatu,” pikirnya, mencoba bersikap adil.

Seekor kupu-kupu melintas, hinggap sebentar di tepi meja, lalu pergi tanpa pamit. Cicay menatapnya, lalu tertawa kecil. “Bahkan kupu-kupu pun lebih tepat waktu daripada manusia tertentu,” ujarnya setengah bercanda.

Namun, di balik ketenangan itu, ada rasa penasaran yang terus mengusik. Siapa sebenarnya orang yang ia tunggu? Dan mengapa pertemuan ini terasa lebih penting dari yang ia akui?

Cicay merapikan rambutnya perlahan, seolah bersiap untuk sesuatu yang belum tentu terjadi.

---ooOoo---

Lima belas menit berlalu sejak Cicay pertama kali melirik jam kecil itu. Tehnya kini benar-benar dingin, tetapi ia tetap memegang cangkirnya, seolah kehangatan bisa dipanggil kembali hanya dengan harapan.

Langkah kaki akhirnya terdengar di kejauhan. Cicay menoleh, berusaha tampak biasa saja, meskipun dalam hati ia sudah menyiapkan beberapa kalimat sindiran halus—atau setidaknya, yang terdengar halus di kepalanya.

“Cicay?” sapanya.

Cicay mengangguk pelan. “Tepat sekali. Dan Anda… tepat lima belas menit terlambat.”

Pria itu tersenyum kikuk. “Saya sudah mempertimbangkan untuk datang sepuluh menit lebih cepat, tapi ternyata saya terlalu konsisten dengan kebiasaan buruk saya.”

Cicay mengangkat alis. “Setidaknya Anda jujur. Itu nilai tambah.”

Pria itu duduk di kursi seberang, lalu menarik napas panjang. “Nama saya Rendra. Terima kasih sudah mau bertemu.”

Cicay memperhatikannya sejenak. Tidak ada yang terlalu istimewa, namun juga tidak ada yang mengganggu. “Kita lihat nanti apakah terima kasih itu perlu dibalas,” katanya ringan.

Percakapan pun dimulai, canggung namun jujur. Dan tanpa disadari, waktu mulai bergerak sedikit lebih cepat.

---ooOoo---

Awalnya, percakapan mereka berjalan seperti dua orang yang sama-sama membaca buku panduan “Cara Berbicara dengan Orang Baru Tanpa Terlihat Aneh”. Kaku, hati-hati, dan sesekali berhenti terlalu lama.

Namun, keadaan berubah ketika Rendra tanpa sengaja menjatuhkan sendok kecil ke lantai.

“Ini bagian dari strategi mencairkan suasana,” katanya cepat, sambil membungkuk mengambil sendok.

Cicay tertawa kecil. “Strategi yang cukup berisik.”

Sejak itu, suasana menjadi lebih ringan. Rendra mulai bercerita tentang pekerjaannya yang sering membuatnya harus berpindah tempat, sementara Cicay membalas dengan kisah-kisah kesehariannya yang lebih tenang, namun tidak kalah menarik.

“Jadi, Anda benar-benar sengaja datang ke taman hanya untuk minum teh sendirian?” tanya Rendra.

“Tidak juga,” jawab Cicay sambil tersenyum. “Hari ini pengecualian. Biasanya saya ditemani buku. Buku lebih jarang terlambat.”

Rendra mengangguk, menerima sindiran itu dengan lapang. “Saya akan berusaha mengalahkan reputasi buku.”

“Berani sekali Anda,” balas Cicay.

Percakapan mereka mulai mengalir tanpa terasa. Topik berpindah dari hal ringan ke hal yang sedikit lebih pribadi—tentang pilihan hidup, kebiasaan kecil, hingga alasan mengapa mereka setuju untuk bertemu hari itu.

Dan di antara tawa kecil serta kalimat yang saling bersahutan, muncul satu pertanyaan yang belum terucap, tetapi sama-sama mereka pikirkan: apakah pertemuan ini hanya kebetulan, atau awal dari sesuatu yang lebih panjang?

---ooOoo---

Matahari mulai turun perlahan, mewarnai langit dengan gradasi jingga yang lembut. Cicay menaruh cangkirnya, kini benar-benar kosong, seolah menandai bahwa waktu mereka di taman tidak lagi sebanyak tadi.

“Jadi,” kata Rendra sambil merapikan posisi duduknya, “sebenarnya ada satu alasan kenapa saya ingin bertemu Anda.”

Cicay menatapnya, tidak terkejut, tetapi jelas penasaran. “Akhirnya sampai juga ke bagian penting.”

Rendra tersenyum tipis. “Saya sedang merintis sebuah usaha kecil. Tidak besar, tapi saya ingin mengembangkannya dengan serius. Dan… saya mendengar Anda cukup berpengalaman dalam mengelola sesuatu dengan rapi.”

Cicay menyilangkan tangan, berpura-pura berpikir keras. “Cukup berpengalaman? Itu terdengar seperti pujian setengah matang.”

“Baik, saya perbaiki,” kata Rendra cepat. “Sangat berpengalaman. Bahkan, mungkin terlalu rapi.”

Cicay tertawa ringan. “Nah, itu baru terdengar jujur.”

Rendra melanjutkan dengan lebih serius. Ia menjelaskan rencananya—tentang usaha kecil yang membutuhkan sentuhan manajemen yang lebih baik. Ia tidak menawarkan sesuatu yang muluk, hanya kesempatan untuk bekerja sama.

Cicay mendengarkan dengan saksama. Tidak ada janji berlebihan, tidak ada kata-kata yang dibuat-buat. Justru itu yang membuatnya menarik.

“Dan Anda yakin saya orang yang tepat?” tanya Cicay.

Rendra mengangguk. “Saya tidak yakin. Tapi saya ingin mencoba meyakinkan Anda.”

Cicay tersenyum pelan. “Pendekatan yang berani.”

Namun, di balik senyumnya, pikirannya mulai bekerja. Ini bukan sekadar pertemuan biasa lagi.

---ooOoo---

Setelah penjelasan Rendra berakhir, suasana kembali tenang. Angin sore berhembus ringan, membawa aroma bunga yang samar. Cicay menatap meja sejenak, seolah mencari jawaban di antara cangkir kosong dan piring kecil yang tersisa.

“Menarik,” ujarnya akhirnya. “Tapi saya tidak bisa langsung menjawab.”

Rendra mengangguk cepat. “Saya tidak berharap jawaban sekarang. Saya justru curiga kalau Anda langsung setuju.”

Cicay tersenyum. “Bagus. Berarti Anda mulai mengenal saya.”

Ia lalu menyandarkan punggung, memandang ke arah taman yang mulai sepi. Dalam pikirannya, berbagai kemungkinan bermunculan.

“Kalau saya ikut,” katanya pelan, “Anda harus siap menghadapi banyak pertanyaan, revisi, dan mungkin kritik yang cukup jujur.”

Rendra tertawa kecil. “Saya sudah menghadapi itu dari diri sendiri. Jadi, tambahan dari Anda mungkin justru membantu.”

“Jawaban yang aman,” balas Cicay ringan.

Namun, ada sesuatu yang membuatnya tertarik.

Cicay menarik napas dalam. “Baiklah. Saya akan mempertimbangkannya dengan serius.”

Rendra tampak lega. “Itu sudah lebih dari cukup.”

Dan untuk pertama kalinya, Cicay merasa pertemuan ini mungkin tidak sia-sia.

---ooOoo---

Keesokan harinya, Cicay duduk di meja kerjanya yang rapi—terlalu rapi, bahkan untuk ukuran dirinya sendiri.

“Ini bisa berhasil… atau justru merepotkan,” gumamnya pelan.

Ia berjalan mondar-mandir.

“Baiklah, kita coba,” katanya mantap.

Tak lama kemudian, Cicay kembali ke taman yang sama.

Rendra datang tepat waktu.

“Saya tidak terlambat,” katanya cepat.

Cicay mengangguk puas. “Kemajuan yang patut diapresiasi.”

Ia menatap Rendra. “Saya ikut. Tapi ingat, saya tidak bekerja setengah-setengah.”

Rendra tersenyum lebar. “Saya juga tidak berniat setengah-setengah.”

Cicay mengambil cangkir tehnya. “Bagus. Kita mulai dari hal kecil dulu. Dan satu lagi—”

“Apa itu?” tanya Rendra.

“Besok, jangan terlambat lagi. Saya tidak selalu punya stok kesabaran ekstra.”

Rendra tertawa, dan kali ini, tawa mereka terdengar lebih ringan, lebih akrab.

Sore itu, bukan hanya sebuah rencana yang dimulai, tetapi juga sebuah perjalanan baru—yang, entah bagaimana, terasa menjanjikan.

---ooOoo---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain Batik dan Rahasia di Balik Pagar

Langkah-Langkah Lela

Cerpen : Sulam Emas Di Ladang Senja