Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen Dialog

Di Mana Angin Bercerita

Gambar
oleh: Diono Pieter Rianto Paradissa duduk di tepi padang rumput yang lembut, membiarkan angin sore menyibakkan rambut panjangnya yang dikepang rapi. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna gading, yang tampak kontras dengan rerumputan hijau yang melambai seperti penonton setia. Dari kejauhan, suara burung-burung yang sedang berdebat ringan terdengar—setidaknya begitu menurut Paradissa, karena mereka berkicau seolah sedang membahas siapa yang paling berbakat dalam hal bersuara merdu. Hari itu, Paradissa sebenarnya ingin beristirahat. Namun, pikirannya justru sibuk memikirkan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada menentukan apakah rumput di sebelah kanan atau kiri lebih hijau. Ia tengah merencanakan perubahan besar: membuka ruang belajar alam untuk anak-anak desa. Ia ingin mengajarkan mereka mengenai tumbuhan, sungai, angin, dan semua hal sederhana yang sering luput dari perhatian. Menurutnya, alam jauh lebih sabar daripada guru mana pun. Tidak pernah bosan mengulang pel...

Vifreyz si Gadis Super: Misi Pertama

Gambar
Cerpen oleh Diono Pieter Rianto dan Freya JKT48 Di halaman belakang yang masih basah oleh embun pagi, Vivi berdiri terpaku sambil menatap kedua telapak tangannya. Detik-detik aneh yang baru terjadi barusan masih berputar di kepalanya: tubuhnya terangkat, melayang, lalu turun lagi seperti mimpi yang belum selesai. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya ilusi. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk melompat sekali lagi—dan kali ini tubuhnya terangkat lebih tinggi, membuatnya terhuyung karena kaget. Sementara itu, dari balik jendela, Riko masih tertidur nyenyak, belum tahu bahwa dunia kecil mereka baru saja berubah. Kegembiraan, ketakutan, dan rasa tak percaya bercampur jadi satu di dada Vivi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa lompatan kecil untuk meraih jambu merah bisa membuka pintu menuju sesuatu yang luar biasa. Setelah menarik napas panjang, ia membangunkan Riko dengan hati yang gelisah. Saat ia mengucapkan kalimat, "Aku bisa terbang…" Riko sempat me...

Cinta Abadi

Gambar
Cerpen oleh Diono Pieter Rianto dan Freya JKT48 Nina duduk di dalam kereta Argopuro yang baru saja meninggalkan Stasiun Tanah Abang. Lampu-lampu kota perlahan memudar di balik jendela, namun pikirannya justru semakin riuh. Ia merasa berat meninggalkan Jakarta—kota yang membuatnya mengenal Fredo, sekaligus kota yang menyimpan perpisahan yang belum sepenuhnya ia terima. Suara roda kereta yang berulang seperti memanggil kembali kenangan yang ia coba tinggalkan. Pintu gerbong tiba-tiba terbuka, dan seorang pemuda masuk dengan langkah tenang. Wajahnya ramah, caranya membawa diri begitu santai sehingga para penumpang otomatis memperhatikannya. Nina melihatnya sekilas, lalu cepat menunduk. Pemuda itu—Marwan—adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang dalam perjalanan menuju Pekalongan, atau setidaknya begitu yang ia sampaikan. Takdir kemudian membuatnya berhenti tepat di samping kursi Nina. Ketika Marwan duduk, keduanya saling bertukar pandang singkat yang justru membuat Nina sem...

Pemburu dalam Bayangan

Gambar
Tom Augusto selalu percaya bahwa roda motor dapat membawa siapa pun ke mana saja—asal tidak ke sawah tetangga lagi, seperti kejadian memalukan minggu lalu. Ia anak kampung biasa yang tinggal di sebuah pemukiman kecil dekat perbukitan. Jalanan di sana bukanlah aspal mulus, melainkan tanah merah yang setiap hari menantang ban motornya untuk terus berputar. Sejak kecil, Tom sudah jatuh cinta pada suara deru mesin. Ia sering duduk di pinggir lapangan tanah sambil meniru suara motor balap yang ia lihat dari televisi tua di rumahnya. Kadang suaranya terlalu keras hingga Ayahnya mengira ada traktor nyasar. "Kalau kamu terus begitu, nanti ayam-ayam kita ikut balapan," keluh Ayah. Tom hanya tertawa. Ia punya mimpi besar—menjadi pembalap internasional. Mungkin terdengar mustahil bagi sebagian orang, namun bagi Tom, mimpi itu seperti roda: harus terus berputar, tidak boleh berhenti. Meskipun motor yang ia miliki hanyalah motor tua peninggalan pamannya, Tom memperlakuk...

Kompas Tanpa Arah: Misteri Candi Tersembunyi

Gambar
Di kaki bukit yang diselimuti kabut pagi, berdiri dua candi tua yang telah lama menjadi bisik-bisik masyarakat sekitar. Tak seorang pun benar-benar tahu siapa yang membangunnya atau untuk apa, tetapi legenda-legenda yang melekat padanya selalu mampu membuat anak-anak merinding dan orang dewasa saling melempar senyum penuh rahasia. Di antara reruntuhan itu, seorang perempuan muda bernama Laksmi berdiri sambil memandangi relief-relief batu yang sudah dimakan usia. Gaun biru kehijauan yang dikenakannya bergoyang diterpa angin sepoi. "Hmm... kalau benar ini tempat yang katanya penuh rahasia, kenapa malah sepi begini?" gumamnya sambil menghela napas panjang. Ia mencoba melangkah ke dalam pelataran, tetapi seketika kakinya tersandung batu kecil. "Astaga! Kenapa batu di sini selalu punya niat jahat, ya?" Laksmi terkekeh sendiri, meski ada sedikit rasa was-was di dadanya. Ia merasa seperti ada yang mengawasi, meskipun pandangannya tak menangkap siapa pun. ...

Postingan populer dari blog ini

Perempuan dengan Keranjang Bunga

Jejak Kristal Pohon Tua (Bagian 2)

Rahasia di Balik Tumpukan Jerami