Vifreyz si Gadis Super: Misi Pertama

Cerpen oleh Diono Pieter Rianto dan Freya JKT48


Di halaman belakang yang masih basah oleh embun pagi, Vivi berdiri terpaku sambil menatap kedua telapak tangannya. Detik-detik aneh yang baru terjadi barusan masih berputar di kepalanya: tubuhnya terangkat, melayang, lalu turun lagi seperti mimpi yang belum selesai. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya ilusi. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk melompat sekali lagi—dan kali ini tubuhnya terangkat lebih tinggi, membuatnya terhuyung karena kaget. Sementara itu, dari balik jendela, Riko masih tertidur nyenyak, belum tahu bahwa dunia kecil mereka baru saja berubah.

Kegembiraan, ketakutan, dan rasa tak percaya bercampur jadi satu di dada Vivi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa lompatan kecil untuk meraih jambu merah bisa membuka pintu menuju sesuatu yang luar biasa. Setelah menarik napas panjang, ia membangunkan Riko dengan hati yang gelisah. Saat ia mengucapkan kalimat, "Aku bisa terbang…" Riko sempat mengerjapkan mata berkali-kali, mengira itu hanya lelucon pagi. Namun ketika Vivi melompat dan tubuhnya benar-benar naik ke udara, ekspresi Riko berubah menjadi campuran takjub dan bingung, seolah otaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima kenyataan itu.

Percakapan mereka kemudian dipenuhi tawa gugup, tebakan-tebakan yang sulit dipercaya, hingga ingatan tentang burung perkutut yang pernah mematuk lengan Vivi setahun lalu. Bukannya horor, Riko justru tertawa karena berpikir tidak masuk akal jika seekor burung kecil bisa memberi seseorang kekuatan super. Namun Vivi merasa ada sesuatu yang tidak biasa sejak kejadian itu. Riko sempat memohon agar kekuatan aneh tersebut tidak mengubah Vivi, tetapi gadis itu hanya tersenyum—seakan merasakan sesuatu yang lebih besar sedang menunggunya.

Belum sempat mereka memperdebatkannya lebih jauh, suara ledakan dari arah kota memecah ketenangan pagi. Getarannya terasa sampai ke tempat mereka berdiri. Vivi mendongak, jantungnya kembali berdebar—bukan karena terbang kali ini, tetapi karena naluri yang muncul begitu saja. Ada sesuatu yang memanggilnya. Riko mencoba menahan, mengatakan bahwa Vivi belum siap. Namun Vivi merasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ketakutannya kalah oleh rasa harus. Ia menoleh pada Riko, matanya penuh tekad yang belum pernah ia tunjukkan. "Aku harus mencoba…" katanya lirih, sebelum tubuhnya kembali terangkat, kali ini dengan keyakinan baru menuju misi pertamanya yang bahkan belum ia mengerti sepenuhnya.

Vivi mengenakan kostum perkutut yang diberikan Riko. Meski topeng bulu-bulunya terasa konyol, sorot mata Riko membuat kostum itu seolah punya makna lain. Ia menyerahkan kostum itu sambil berkata pelan, "Setidaknya ini bisa melindungi kamu. Kebal peluru sementara." Vivi hanya tertawa kecil sambil berkata, "Haha… kamu selalu punya ide yang aneh tapi berguna." Setelah mengenakan semuanya, ia mendekat dan berbisik singkat sebelum terbang, "Aku pergi dulu… tunggu aku."

---ooOoo---

Sesampainya di kota, penjahat pertama langsung menghadang. Dengan nada meremehkan, ia bertanya siapa Vivi, dan gadis itu tanpa ragu menjawab, "Aku Vifreyz. Pelindung kota ini." Tentu saja lawannya menertawakan nama itu, tetapi tawa itu berhenti begitu Vivi menghindar dan membalas serangan dengan mudah. Belum sempat ia bernapas lega, penjahat kedua muncul sambil mengancam, membuat Vivi kembali bersiap. Dan tepat saat ia bergerak, suara tembakan terdengar. Vivi berlindung di balik tembok, lalu memeriksa peluru yang nyangkut di kostumnya. Ia menggumam, "Hebat juga kostum aneh ini…"

Ponselnya tiba-tiba berdering. Suara Riko muncul, memberi tahu soal "biji jagung palsu" yang ternyata bom gas penidur. Vivi hanya melongo sejenak sebelum tersenyum tipis. "Kamu luar biasa, Riko…" gumamnya. Ia meraih biji jagung palsu itu, lalu keluar dan melemparkannya ke arah kumpulan penjahat. Asap putih menyelimuti mereka, membuat semuanya jatuh tertidur. Kota mendadak sunyi, dan Vivi mengembuskan napas lega.

---ooOoo---

Namun ketenangan itu pecah ketika terdengar tepuk tangan perlahan. Vivi memutar badan. "Siapa itu? Tunjukkan dirimu!" serunya. Dari balik puing, seorang pria muncul dengan langkah tenang. Ia tidak terlihat panik—justru seakan menunggu momen ini.

"Kerja bagus, Vifreyz," katanya.

Vivi menatapnya curiga. "Kamu tahu namaku?"

Pria itu tersenyum tipis. "Aku tahu banyak hal. Juga tentang kekuatanmu."

"Bagaimana…?" tanya Vivi, kini mulai gelisah.

"Karena aku datang untuk membantumu," jawab pria itu. "Ada musuh yang jauh lebih besar dari sekadar para penjahat tadi. Namanya Umbra."

Vivi mengerutkan kening. "Umbra? Aku belum pernah mendengar mereka."

"Mulai sekarang," pria itu berkata pelan, "percayalah, nama itu akan sering kamu dengar."

---ooOoo---

Dan saat angin menggoyangkan debu di sekitar mereka, Vivi merasakan firasat yang aneh—bahwa petualangannya baru saja dimulai, dan apa pun yang menunggunya jauh lebih besar daripada kekuatan terbang yang baru ia kuasai.

Vivi masih memegang napas ketika pria misterius itu berdiri di hadapannya. Suaranya tenang, namun ada sesuatu di balik matanya—seperti seseorang yang membawa beban masa lalu yang tidak ingin diulang. "Mereka sangat rahasia…" katanya. "Tapi aku tahu tentang mereka. Aku bisa membantumu, bila kamu percaya padaku." Vivi menatapnya ragu. "Bagaimana aku bisa percaya? Aku bahkan tidak tahu siapa kamu." Pria itu tersenyum tipis, lalu berkata, "Namaku Zeno. Aku mantan anggota Umbra." Kata itu membuat dada Vivi mengencang. "Mantan? Kenapa keluar?" Zeno menjawab tanpa ragu, "Karena aku tidak setuju dengan tujuan mereka. Aku ingin menghentikan mereka." Meski begitu, Vivi masih merasa dilema sampai Zeno menyerahkan sebuah file lusuh ke tangannya—dan isi file itu membuatnya terdiam. Foto-foto, catatan, rencana—semuanya menunjukkan betapa berbahayanya Umbra. "Ini… ini serius," ucap Vivi pelan. "Sangat serius," jawab Zeno. "Karena itu aku ingin melatihmu."

Hari-hari berikutnya dipenuhi pelatihan yang melelahkan tapi membangkitkan kekuatan baru dalam diri Vivi. Zeno mengajarinya mengontrol arah terbang, menahan tenaga agar tidak berlebihan, dan memfokuskan kekuatan fisiknya. Vivi terkejut karena tubuhnya mampu mengikuti latihan lebih cepat daripada dugaan siapa pun. Setiap kali ia hampir menyerah, Zeno hanya berkata, "Kamu bisa lebih kuat dari yang kamu kira." Hingga satu sore, setelah Vivi berhasil melakukan manuver sulit di udara, Zeno berkata, "Baiklah, Vivi. Sekarang kamu siap." Vivi mengerutkan kening. "Siap untuk apa?" Zeno menjawab datar, "Menghadapi Umbra." Tepat saat itu, ponsel Zeno berbunyi. Raut wajahnya berubah. "Mereka tahu keberadaanmu." Vivi terhenyak. "Bagaimana mungkin?" "Mata-mata mereka ada di mana-mana," kata Zeno. "Tapi kamu tidak bisa bersembunyi selamanya. Waktumu sudah tiba."

---ooOoo---

Sebelum berangkat, Zeno menyerahkan kostum baru—rancangan khusus yang ia perbaiki dari konsep awal Riko. Saat Vivi mengenakannya, ia merasakan kepercayaan diri yang berbeda. "Kostum ini cocok untukmu," kata Zeno. "Sekarang, mari kita selesaikan ini." Mereka memasuki markas Umbra, bergerak cepat namun tetap terukur. Para anggota Umbra menghadang dengan berbagai strategi, tetapi Vivi telah jauh berkembang. Ia terbang rendah untuk menghindar, melompat ringan untuk menahan serangan, dan menggunakan kekuatan fisiknya dengan kendali penuh. Zeno berada di sisinya, mengatur ritme perlawanan dengan ketenangan yang mengingatkan pada seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam bayangan. "Tetap fokus," katanya setiap kali Vivi mulai goyah. Langkah demi langkah, mereka mendekati pusat markas.

Hingga akhirnya, pintu terakhir terbuka, menampakkan sosok wanita berwibawa berdiri di tengah ruangan. Rambutnya berkilau, tatapannya tajam bagai cahaya bulan, dan senyum tipisnya mengandung sesuatu yang sulit ditebak. "Selamat datang," katanya. "Kalian berdua benar-benar tangguh… tapi aku tidak akan kalah." Vivi menatapnya tanpa gentar. "Kami ke sini bukan untuk kalah. Kami ingin menghentikanmu." Lady Luna, pemimpin Umbra, hanya mengangkat dagunya sedikit. "Kalimat yang indah… tapi mari lihat apakah keberanianmu cukup kuat." Ruangan itu menjadi senyap sesaat, seperti dunia menahan napas, ketika Vivi dan Zeno bersiap menghadapi sosok yang selama ini bersembunyi di balik setiap kekacauan yang terjadi.

Lady Luna mengangkat tangannya perlahan, dan seakan seluruh ruangan menahan napas. Dalam hitungan detik, energi sihir biru muda menyebar seperti kabut tipis—hingga meja, kursi, bahkan lampu gantung mulai bergetar… lalu melayang, satu per satu.

Vivi dan Zeno refleks menunduk ketika sebuah kursi meluncur melewati kepala mereka. Vivi menatap semua itu dengan wajah pucat; ia sama sekali tidak siap menghadapi sihir sesungguhnya.

"Ini… ini tidak masuk akal," gumamnya pelan.

Zeno menatap Lady Luna, kemudian melirik Vivi.

"Dia memang penyihir, Vivi. Dan kita tidak punya banyak waktu."

Vivi menarik napas, bingung harus melakukan apa. Tapi ketika sebuah meja besar hendak menabraknya, tubuhnya bereaksi sendiri. Energi bening membungkusnya seperti bola kaca transparan, memantulkan semua benda yang mendekat dan menghancurkannya di udara.

Lady Luna berhenti sejenak, jelas terkejut melihat kekuatan itu.

"Kau… bisa menahan sihirku?" katanya, suaranya terdengar lebih seperti bisikan tak percaya.

Vivi tidak menjawab panjang. Ia hanya menegakkan tubuhnya.

"Aku tidak mau melawan… tapi aku harus menghentikanmu."

---ooOoo---

Lady Luna semakin kesal, lalu melepaskan sihir yang jauh lebih kuat. Ruangan berguncang, lantai retak halus. Tapi energi pelindung Vivi tidak goyah—justru semakin stabil.

Ketika Lady Luna sibuk menyerang, Zeno bergerak diam-diam ke belakangnya. Ia hanya berkata cepat, hampir seperti hembusan angin: "Sekarang, Vivi."

Tanpa ragu, Vivi melemparkan biji jagung palsu buatan Riko. Kecil, kuning, tidak terlihat berbahaya sama sekali… tapi jatuh dengan sempurna di kaki Lady Luna.

Dan hasilnya sangat dramatis.

Lady Luna langsung goyah, matanya berkedip lambat… lalu ambruk tertidur pulas. Bahkan mengeluarkan dengkuran halus yang sangat tidak cocok untuk seseorang yang beberapa detik lalu hampir meruntuhkan bangunan.

Vivi menahan tawanya sampai bahunya bergetar.

"Masih nggak percaya… cuma biji jagung," katanya sambil menutupi mulut.

Zeno tersenyum kecil. "Yang penting berhasil."

Mereka berdua memandangi Lady Luna yang tidur dengan pose aneh dan jubah kusut. Kekacauan ruangan barusan terasa seperti mimpi buruk yang tiba-tiba berhenti begitu saja.

"Terus, kita bawa dia ke mana?" tanya Vivi, suaranya sudah kembali normal.

"Ada penjara khusus," jawab Zeno. "Tempat untuk menahan orang sekuat dia."

Vivi mengangguk tanpa ragu. "Kalau begitu… ayo kita bereskan ini."

Dengan hati-hati, mereka mengangkat Lady Luna yang masih tertidur dan membawanya keluar dari ruangan yang penuh benda patah dan debu sihir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain Batik dan Rahasia di Balik Pagar

Langkah-Langkah Lela

Cerpen : Sulam Emas Di Ladang Senja