Pemburu dalam Bayangan
Tom Augusto selalu percaya bahwa roda motor dapat membawa siapa pun ke mana saja—asal tidak ke sawah tetangga lagi, seperti kejadian memalukan minggu lalu. Ia anak kampung biasa yang tinggal di sebuah pemukiman kecil dekat perbukitan. Jalanan di sana bukanlah aspal mulus, melainkan tanah merah yang setiap hari menantang ban motornya untuk terus berputar.
Sejak kecil, Tom sudah jatuh cinta pada suara deru mesin. Ia sering duduk di pinggir lapangan tanah sambil meniru suara motor balap yang ia lihat dari televisi tua di rumahnya. Kadang suaranya terlalu keras hingga Ayahnya mengira ada traktor nyasar. "Kalau kamu terus begitu, nanti ayam-ayam kita ikut balapan," keluh Ayah.
Tom hanya tertawa. Ia punya mimpi besar—menjadi pembalap internasional. Mungkin terdengar mustahil bagi sebagian orang, namun bagi Tom, mimpi itu seperti roda: harus terus berputar, tidak boleh berhenti. Meskipun motor yang ia miliki hanyalah motor tua peninggalan pamannya, Tom memperlakukannya seperti mesin juara dunia. Ia bahkan memberi nama pada motor itu: "Kilat", meskipun seringkali melaju seperti siput yang sedang piknik.
Setiap sore, Tom berlatih melintasi gundukan tanah dan lereng kecil yang ia buat sendiri. Ketika ia berhasil melompat sedikit lebih tinggi dari biasanya, ia merasa seperti terbang ke masa depan di mana sorakan penonton memenuhi stadion. Namun, realitas selalu hadir, biasanya berupa suara patahan knalpot atau rantai yang terlepas tiba-tiba.
Teman-temannya sering menertawakannya, bukan karena mereka meremehkan, tetapi karena Tom terkadang berkendara sambil memejamkan satu mata, pura-pura sedang bergaya seperti pembalap terkenal. "Jangan sampai benar-benar menabrak, Tom!" seru mereka.
Meski begitu, setiap tawa itu justru menjadi bahan bakar semangatnya. Ia yakin—suatu hari, namanya akan terdengar hingga ke lintasan-lintasan dunia. Namun, jalan menuju impian itu baru saja dimulai. Dan seperti trek berdebu yang ia lalui setiap hari, petualangan ini pasti akan penuh tantangan.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam di balik bukit, Tom kembali memacu "Kilat" di lapangan tanah. Ia berusaha melakukan lompatan lebih tinggi dari biasanya. Namun, mungkin motor tua itu sedang bad mood, karena begitu Tom menarik gas, "Kilat" malah batuk-batuk seperti baru menelan kerikil. Alhasil, Tom terbang… tapi mendarat kurang elegan, tepat di tumpukan dedaunan kering.
"Motornya ingin masuk angin juga?" suara seseorang terdengar.
Tom bangkit dengan gaya sok tidak malu. Di hadapannya berdiri seorang pria berjaket lusuh, namun helm yang ia sandang tampak profesional. Namanya Andre, seorang pria yang mengaku pernah mengikuti berbagai perlombaan motor trail lintas daerah.
Tom menatapnya dengan mata berbinar. "Benarkah Pak? Ajari saya! Saya ingin menjadi pembalap internasional!"
Andre hanya tersenyum kecil. "Ambisi besar, motor kecil," katanya sambil menepuk tubuh "Kilat" yang berderit pelan, seolah ikut tersinggung. "Tapi bukan soal motor yang hebat, melainkan pengendara yang hebat."
Sejak hari itu, Andre menjadi pelatih tak terduga untuk Tom. Ia mengajarinya cara mengendalikan motor dengan lebih baik—mulai dari menjaga keseimbangan, mengontrol gas, hingga teknik lompat kecil. Terkadang Tom terlalu semangat dan malah terbang ke arah yang salah. "Namanya juga belajar," Andre tertawa, sambil memastikan Tom masih utuh tanpa bagian tubuh tercecer.
Yang membuat latihan semakin menarik adalah gaya Andre yang suka melontarkan humor. "Ingat, jangan lihat batu di depanmu. Kalau kamu lihat batu, kamu tabrak batu. Lihat jalan… bukan batu. Batu tidak ingin kamu tabrak, dia cuma lewat!"
Tom merasa dunia mulai mendukung mimpinya sedikit demi sedikit. Ia belajar, berlatih, jatuh, bangkit lagi, dan tertawa. Semangat itu semakin membara, seperti mesin "Kilat" yang perlahan mulai menemukan napasnya. Namun, Andre menyimpan sebuah cerita yang belum ia bagi—sebuah masa lalu yang kelak akan menguji tekad Tom.
Latihan demi latihan membentuk keberanian baru dalam diri Tom. Ia mulai bisa melakukan lompatan-lompatan kecil yang sebelumnya membuatnya takut. Bahkan "Kilat" tampak lebih percaya diri—atau mungkin hanya karena bautnya sudah diganti semua oleh Andre.
Suatu hari, setelah sesi latihan yang melelahkan, Tom duduk di sebelah Andre di pinggir trek. Angin sore berembus lembut, membuat debu pelan-pelan turun, seperti tirai yang menutup sebuah pertunjukan.
"Pak Andre hebat sekali," kata Tom sambil mengusap keringat. "Kenapa berhenti balapan? Kalau saya hebat seperti Bapak, saya pasti tidak akan berhenti."
Andre terdiam sejenak. Helmnya diletakkan di tanah, dan ia memandang jauh ke arah bukit yang mulai remang. "Dulu, saya punya mimpi yang sama seperti kamu," katanya pelan. "Saya pernah hampir mencapai tingkat tertinggi. Namun… sebuah kecelakaan membuat saya kehilangan kepercayaan diri."
Tom menelan ludah. Ia tidak berani bertanya lebih jauh, takut menyentuh luka lama mentornya. Namun Andre justru tersenyum. "Saya tidak ingin kamu mengulangi kesalahan saya. Kamu punya peluang lebih besar. Kamu punya semangat yang bahkan "Kilat" pun mau mengikuti."
Tom menunduk, merasa terharu sekaligus bangga. "Saya… akan berusaha. Saya ingin membuktikan bahwa mimpi anak kampung juga bisa terbang tinggi."
Andre menepuk pundaknya. "Tapi ingat, balapan bukan hanya soal kecepatan. Ini soal keberanian untuk bangkit setiap kali jatuh. Dan juga, jangan lupa mengencangkan rantai. Itu penting."
Tom tertawa. "Baik, Pak! Saya tidak mau terbang sendirian tanpa motor lagi."
Hari itu, Tom semakin mengerti: mimpi bukan cuma tentang menang, tapi tentang perjalanan. Namun perjalanan itu akan segera menghadapi ujian besar. Sebuah kejuaraan tingkat daerah akan segera digelar—dan Tom berniat ikut, meski lawan-lawannya jauh lebih berpengalaman.
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Lapangan luas di kota terdekat disulap menjadi arena balap motor tanah. Penonton memenuhi tepian trek, membawa spanduk, teriakan, dan camilan yang aromanya entah membuat semangat atau malah lapar.
Tom berdiri di garis start bersama para pembalap lain. Motor-motor mereka terlihat canggih dan mengilap, seakan baru keluar dari majalah otomotif. Sementara "Kilat"? Ia terlihat percaya diri… walau suara mesinnya kadang terdengar seperti seseorang yang baru bangun tidur.
Andre memberi kepadanya satu pesan terakhir sebelum perlombaan dimulai. "Ingat, Tom. Fokus pada lintasanmu. Jangan pedulikan motor siapa yang berkilau. Yang penting, kamu tidak jatuh terbalik seperti waktu latihan dua hari lalu."
Tom mengangguk dengan muka yang memerah mengingat kejadian itu. Tepuk tangan penonton seakan menjadi dentuman dalam dada. Ia menatap ke depan, memegang erat stang, napas ditata.
Bendera start terangkat… dan melambai. BRRRRMMM! Para pembalap melesat dengan kecepatan tinggi. Tom sempat tertinggal di awal, tapi ia tidak panik. Ia ingat semua yang diajarkan Andre—jaga ritme, cari jalur terbaik, yakin pada keseimbangan diri.
Lompatan pertama datang. Pembalap di depannya mendarat agak goyah. Tom mengambil sisi kanan, menarik gas sedikit, dan "Kilat" meluncur mulus seolah ingin memamerkan kemampuannya. Penonton bersorak kecil ketika ia berhasil menyusul dua pembalap sekaligus.
Namun tantangan besar menanti: tanjakan tinggi yang membuat banyak pembalap senior pun gugup. Tom mengencangkan rahangnya—waktunya membuktikan.
"Tolong jangan patah, ya," bisiknya pada "Kilat", lebih sebagai doa daripada perintah. Ia menarik gas. Motor melompat. Udara seakan berhenti. Untuk sesaat, Tom merasa seperti benar-benar terbang menggapai mimpinya. Tetapi saat roda depan hampir menyentuh tanah, ia melihat batu besar di jalurnya.
Hatinya berdesir. Tekadnya diuji dalam satu detik yang terasa begitu panjang…
Di momen kritis itu, pikiran Tom berputar lebih cepat dari roda motornya. Batu besar itu terasa seperti raksasa yang sengaja muncul untuk menggagalkan mimpinya. Ia teringat lagi pesan Andre: "Jangan lihat batu. Lihat jalan."
Tom mengalihkan tatapan, menarik stang sedikit ke kiri. Ban depan bergesekan dengan tanah, debu berhamburan, dan "Kilat" bergetar hebat. Namun keduanya tetap bertahan. Tidak ada teriakan panik, tidak ada jatuh berputar seperti latihan-latihan konyol sebelumnya.
Justru sorakan penonton meledak. Tom terus maju. Setiap tikungan ia lewati dengan keberanian yang dibangun dari mimpi-mimpi masa kecilnya. Setiap lompatan ia taklukkan dengan tawa yang pernah menjadi bahan candaan. Setiap napas ia isi dengan keyakinan bahwa namanya tidak akan lagi sekadar terdengar di kampung, tapi kelak di dunia balap internasional.
Dan saat garis akhir semakin dekat, Tom melihat Andre berdiri di pinggir lintasan, melambaikan tangan dan berteriak semampunya. Entah dukungan atau sekadar memastikan mur motor tidak copot—yang jelas, semangat itu sampai ke hati Tom.
Dengan dorongan terakhir, ia melesat melewati garis finish. Ia tidak berada di posisi pertama—tetapi ia berhasil mencapai podium ketiga. Bagi Tom, itu bukan sekadar angka. Itu adalah bukti bahwa keberanian seorang anak kampung bisa menembus batas.
Saat ia naik podium, "Kilat" seakan ikut bangga—walau knalpotnya mengeluarkan suara seperti batuk bahagia. Tom tertawa, menatap keramaian yang menyebutkan namanya, bukan untuk menertawakan, tapi mengagumi.
Andre menepuk bahunya dan berkata, "Ini baru awal, Tom. Dunia masih menunggumu."
Tom menggenggam piala itu erat-erat. Ia tahu perjalanan masih panjang. Akan ada rintangan, kegagalan, dan batu-batu lain yang menghadang. Namun selama roda mimpinya terus berputar, Tom Augusto akan terus melaju—menuju lintasan dunia, menuju masa depan yang ia pilih sendiri.
— Tamat —
Komentar
Posting Komentar