Jejak Kristal Pohon Tua (Bagian 2)

Cerita versi komik untuk bagian 1 bisa didapatkan di: https://play.google.com/store/books/details?id=DrvTEQAAQBAJ

Agnio berdiri di tengah pasar desa dengan wajah sedikit kebingungan, meskipun berusaha terlihat santai. Desa itu jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Orang-orang berlalu-lalang, suara tawar-menawar terdengar dari berbagai arah, dan aroma buah segar bercampur dengan wangi gorengan yang menggoda. Perutnya sempat berbunyi pelan, seolah ikut memberi saran agar fokusnya tidak terlalu jauh.

Ia mendekati seorang pria tua penjual buah yang tampak sibuk menata dagangannya. "Pernah mendengar tempat misterius di sekitar sini?" tanya Agnio.

Pria itu berhenti sejenak, menatap Agnio dari ujung kepala sampai kaki. "Kalau yang kamu maksud tempat yang bikin orang tersesat, ada. Namanya pasar ini saat akhir pekan," jawabnya datar.

Agnio menghela napas pendek. "Maksud saya tempat yang tidak biasa. Sesuatu yang ... penting."

Pria tua itu menggaruk dagunya. "Kalau begitu, mungkin kamu cari tempat yang disebut Jalur Tiga Bukit. Bukan misterius, tapi banyak orang gagal sampai ujungnya."

"Kenapa?" tanya Agnio cepat.

"Karena mereka sering berhenti di warung makan," jawabnya ringan.

Agnio terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia mulai paham, perjalanan ini mungkin bukan tentang keberanian saja, tapi juga... pengendalian diri.

──◇❖◇──

Agnio meninggalkan desa dengan langkah yang lebih mantap, meskipun sesekali ia menoleh ke belakang, tepatnya ke arah warung makan yang tadi disebutkan. "Ini ujian pertama," gumamnya. "Bukan soal bahaya, tapi soal perut." Arvo meringkik pelan, seakan tidak terlalu peduli selama ia tetap mendapat rumput.

Jalur Tiga Bukit ternyata tidak berlebihan namanya. Bukit pertama sudah cukup membuat napas Agnio tersengal. "Kalau masih ada dua lagi, aku mulai curiga ini bukan jalur, tapi latihan," katanya sambil menyeka keringat.

Di tengah perjalanan, ia bertemu seorang pria muda yang duduk di pinggir jalan, tampak kelelahan. "Istirahat?" tanya Agnio.

Pria itu mengangguk. "Aku sudah tiga kali mencoba lewat sini. Selalu gagal."

"Kenapa?" tanya Agnio.

"Karena aku selalu berpikir masih ada waktu untuk santai," jawabnya jujur.

Agnio tersenyum kecil. Jawaban itu terasa sederhana, tapi cukup mengena. Ia pun melanjutkan perjalanan tanpa banyak berhenti, meskipun godaan untuk duduk sangat besar.

Saat mencapai puncak bukit pertama, ia melihat sesuatu di kejauhan: jalur bercabang dengan tanda-tanda aneh. Tidak ada petunjuk jelas.

Agnio mengerutkan kening. "Baiklah, ini mulai menarik... atau menyusahkan."

──◇❖◇──

Di hadapan Agnio terbentang tiga jalur yang tampak hampir serupa. Tidak ada papan penunjuk, tidak ada tanda arah yang meyakinkan. Hanya batu kecil di tengah percabangan dengan goresan samar yang sulit dipahami. Agnio berjongkok, memperhatikan lebih dekat.

"Ini tulisan atau bekas ayam lewat?" gumamnya.

Arvo mengendus batu itu sebentar, lalu justru menghadap ke salah satu jalur di sebelah kanan. Agnio menyipitkan mata. "Kau yakin, atau cuma tertarik rumput di sana?"

Ia berdiri, mencoba berpikir logis. Jalur kiri terlihat lebih landai, tapi tanahnya lembek. Jalur tengah lurus, namun dipenuhi kerikil tajam. Jalur kanan sedikit berkelok, dengan pepohonan yang tampak lebih rapat.

"Kalau terlalu mudah, biasanya bukan itu jawabannya," katanya pelan.

Akhirnya, ia memilih jalur kanan, mengikuti insting sekaligus... sedikit kepercayaan pada Arvo. Beberapa langkah pertama terasa biasa saja, sampai ia mulai menyadari sesuatu: jalur itu sepi, terlalu sepi.

Tidak ada suara burung, tidak ada angin yang terasa. Hanya suara langkah mereka sendiri.

Agnio memperlambat langkah. "Kalau ini jebakan, setidaknya jebakannya rapi," ujarnya.

Beberapa meter ke depan, ia melihat sebuah papan kayu tua berdiri miring. Tulisan di atasnya mulai terbaca.

Dan isinya membuat Agnio berhenti.

──◇❖◇──

Agnio mendekati papan kayu itu dengan hati-hati, seolah papan tersebut bisa tiba-tiba berubah pikiran. Tulisan di atasnya akhirnya terbaca jelas: "Jalur ini memutar kembali ke awal."

Ia terdiam beberapa detik. "Bagus. Informasi penting, tapi datangnya telat," gumamnya. Ia menoleh ke belakang, jalur yang sudah dilewati tampak sama seperti di depan—tidak ada perbedaan mencolok.

Agnio menarik napas panjang. "Baiklah, berarti ini bukan soal memilih jalan tercepat, tapi memahami jalannya." Ia memperhatikan sekitar dengan lebih teliti. Kali ini ia tidak hanya melihat jalur, tetapi juga detail kecil: arah bayangan, posisi batu, bahkan bentuk cabang pohon.

Beberapa langkah kemudian, ia menemukan sesuatu yang sebelumnya terlewat—sebuah tanda kecil di batang pohon, seperti goresan berulang yang disengaja. "Nah, ini lebih masuk akal," katanya.

Ia mengikuti tanda-tanda itu, dan benar saja, jalur yang tadinya tampak berputar ternyata memiliki cabang tersembunyi yang mengarah ke atas bukit berikutnya.

Saat akhirnya keluar dari jalur itu, Agnio tersenyum puas. "Jadi bukan jalannya yang menipu, tapi aku yang kurang teliti."

Arvo meringkik pelan, seolah setuju.

Di kejauhan, bukit kedua menunggu—dan terlihat lebih tinggi.

──◇❖◇──

Bukit kedua terlihat tidak bersahabat sejak awal. Jalurnya lebih sempit, dengan batu-batu besar yang tersebar tidak beraturan. Agnio berhenti sejenak, menatap ke atas. "Kalau bukit ini punya niat baik, seharusnya dia menyediakan tangga," keluhnya.

Ia melangkah pelan, kali ini lebih berhati-hati. Pengalaman di jalur sebelumnya membuatnya tidak lagi terburu-buru. Setiap pijakan diperiksa, setiap arah dipertimbangkan. Anehnya, langkahnya justru terasa lebih ringan.

Di tengah perjalanan, ia menemukan seorang perempuan yang sedang mencoba memindahkan batu kecil dari jalur. "Untuk apa?" tanya Agnio.

"Supaya yang lewat setelahku tidak kesulitan," jawabnya singkat.

Agnio mengangguk pelan. Ia ikut membantu, memindahkan beberapa batu yang menghalangi jalan. Tidak butuh waktu lama, tapi cukup membuat jalur itu lebih mudah dilalui.

"Terima kasih," kata perempuan itu sebelum melanjutkan perjalanan ke arah berbeda.

Agnio tersenyum. "Ternyata perjalanan ini bukan soal sampai duluan," gumamnya.

Saat ia melanjutkan langkah, ia menyadari sesuatu: jalur yang tadi terasa sulit kini terlihat lebih jelas. Seolah setiap usaha kecil memberi dampak yang nyata.

Di puncak bukit kedua, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Bukan jalur.

Melainkan sebuah bangunan sederhana.

──◇❖◇──

Bangunan itu berdiri tenang di puncak bukit, sederhana namun terasa mencolok karena tidak tercantum di peta Agnio. Dindingnya terbuat dari kayu tua, dengan jendela kecil yang terbuka. Asap tipis keluar dari cerobongnya.

Agnio mendekat perlahan. "Kalau ini penginapan, semoga ada diskon untuk petualang lelah," gumamnya.

Ia mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya membukanya. Wajahnya ramah, seperti sudah menunggu tamu sejak lama. "Silakan masuk," katanya singkat.

Di dalam, ruangan itu hangat dan rapi. Ada meja, beberapa kursi, dan rak berisi gulungan kertas. Agnio langsung tertarik. "Ini... peta?"

Pria itu mengangguk. "Lebih tepatnya, catatan perjalanan. Banyak orang melewati jalur ini, tapi tidak semua belajar dari perjalanannya."

Agnio terdiam. Ia membuka salah satu gulungan. Isinya bukan hanya rute, tapi juga pengalaman, kesalahan, dan cara menghindarinya.

"Jadi ini tujuan sebenarnya?" tanya Agnio.

"Bukan tujuan," jawab pria itu tenang. "Ini persiapan."

Agnio tersenyum kecil. Ia menatap ke luar jendela, ke arah bukit ketiga yang menjulang lebih tinggi.

"Baiklah," katanya pelan. "Kalau begitu, aku belum selesai."

Arvo meringkik pelan, seolah mengingatkan satu hal penting.

Perjalanan berikutnya... pasti lebih menantang.

──◇❖◇──

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain Batik dan Rahasia di Balik Pagar

Langkah-Langkah Lela

Surat-Surat Pak Darma