Rahasia dari Halaman
Dalam balutan sinar pagi, halaman rumah bata merah terlihat diam dan menenteramkan. Burung-burung kecil berloncatan di ranting pohon, seakan ikut bergembira menyambut matahari yang baru saja naik. Di sudut halaman, sebuah meja kayu sederhana sudah dipenuhi aroma teh melati yang harum. Uapnya tipis-tipis naik, membuat udara terasa lebih ramah.
Dua perempuan duduk berhadapan di kursi kayu. Satunya mengenakan baju biru, wajahnya teduh dengan senyum yang selalu siap muncul. Satunya lagi memakai blus merah muda, matanya berbinar seolah siap dengan cerita baru yang akan dilontarkan. Mereka tampak akrab, seperti dua sahabat yang sudah ribuan kali saling mengulang percakapan kecil yang tak pernah bosan.
"Kalau saja teh ini bisa bicara," ujar yang berbaju merah muda sambil menahan tawa kecil, "pasti ia protes karena tiap pagi harus mendengar keluhan kita."
Yang berbaju biru terkekeh. "Ah, kalau teh bisa bicara, ia mungkin malah minta tambahan gula biar kuat mendengar ocehanmu."
Percakapan ringan itu membuat suasana makin hangat. Sesekali angin berhembus, menggerakkan tirai kain biru yang menutup pintu rumah. Di sisi kiri halaman, rambatan bunga berwarna ungu muda mekar ceria, ikut menjadi pendengar diam.
Bagi mereka, pagi bukan sekadar awal hari, tetapi juga panggung kecil untuk berbagi cerita, mengingat hal-hal lucu, dan tentu saja menertawakan diri sendiri. Lucunya, mereka sering berdebat soal hal-hal sepele, seperti siapa yang lebih pandai menyeduh teh.
"Kalau tehnya terlalu pekat, jangan salahkan aku," kata si baju biru.
"Kalau terlalu encer, jangan salahkan aku juga," balas si merah muda sambil pura-pura serius.
Dan begitulah, pagi itu dimulai dengan canda. Namun siapa sangka, di balik tawa sederhana, ada rahasia kecil yang belum pernah benar-benar mereka ungkapkan satu sama lain.
---ooOoo---
Sinar matahari mulai menembus celah-celah daun, jatuh ke meja kayu dan membuat bayangan bergerak-gerak seperti tarian kecil. Kedua perempuan itu masih asyik berbincang, seolah dunia luar tak pernah mendesak mereka untuk beranjak. Namun di balik gelak tawa ringan, ada sesuatu yang belum pernah mereka bagi sepenuhnya.
Perempuan berbaju merah muda, sebut saja Ratna, memandang ke arah cangkirnya. Ia mengaduk pelan meski tidak ada gula yang larut di dalamnya. Gerakan itu semacam kebiasaan ketika pikirannya penuh. Perempuan berbaju biru, yang bernama Sari, sudah hapal tanda-tanda itu.
"Kau mengaduk teh tanpa gula lagi," ucap Sari sambil mengangkat alis. "Jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu?"
Ratna terkekeh, mencoba menutupi kegugupannya. "Siapa bilang? Aku hanya sedang melatih otot pergelangan tangan."
Sari tertawa. "Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau suatu saat pergelanganmu lebih berotot daripada lengan tukang angkat galon."
Mereka berdua kembali tertawa, tetapi mata Ratna sempat melirik sekilas ke arah jalan setapak yang membelah halaman. Ada secuil kegelisahan di sana, meski cepat-cepat ia sembunyikan di balik senyum.
"Kalau ada yang mengganggumu, bilang saja," Sari menambahkan dengan nada setengah serius. "Jangan membuatku harus menebak-nebak seperti membaca ramalan di bungkus permen."
Ratna menggeleng, mencoba menepis. "Bukan apa-apa. Hanya mimpi aneh semalam, itu saja."
"Mimpi?" Sari mendekatkan kursinya, matanya berbinar penuh penasaran. "Kalau begitu, ini pasti menarik. Cepat ceritakan sebelum aku tebak sendiri dan malah salah paham."
Ratna tersenyum kecut. Ia tahu, rahasia itu akhirnya harus keluar juga. Tapi apakah pagi yang tenang ini siap untuk sebuah kisah yang bisa mengubah suasana?
---ooOoo---
Ratna menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. "Semalam aku bermimpi, ada seseorang berdiri di depan rumah ini. Ia mengetuk pintu, tapi anehnya, pintu itu tidak bisa kubuka. Padahal aku sudah menarik gagangnya berkali-kali."
Sari mencondongkan tubuh, wajahnya penuh rasa ingin tahu. "Siapa orang itu? Kau kenal?"
Ratna menggeleng. "Itu dia masalahnya. Wajahnya samar, seperti tertutup kabut. Aku hanya bisa melihat siluetnya. Anehnya lagi, ia membawa sesuatu… kotak kecil berwarna cokelat."
Sari langsung mengangkat cangkirnya, pura-pura serius seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi. "Jangan-jangan itu kotak berisi harta karun. Atau… kue lapis legit?"
Ratna terkikik meski masih terlihat tegang. "Kalau benar isinya kue, pasti aku sudah bahagia, Sar. Tapi entah kenapa, dalam mimpiku aku merasa kotak itu berat sekali, seolah menyimpan sesuatu yang penting."
Angin bertiup pelan, membuat bunga rambat di sudut halaman bergoyang. Sesaat suasana jadi hening, hanya terdengar bunyi burung gereja yang berceloteh. Sari menatap sahabatnya dalam-dalam, lalu mencoba mencairkan suasana.
"Sudahlah, mungkin itu hanya efek kebanyakan makan sebelum tidur. Perut kenyang memang suka menghasilkan mimpi aneh. Pernah juga aku bermimpi dikejar ayam goreng raksasa. Bayangkan, ayam goreng setinggi pohon mangga! Aku sampai terbangun sambil memegang bantal seperti sayap."
Ratna tidak bisa menahan tawa mendengar cerita konyol itu. Namun di balik tawanya, mimpi itu tetap menggelayut, membuat dadanya sesak oleh rasa penasaran yang sulit dihapus. Ia tahu, mimpi sering kali hanyalah bunga tidur, tetapi perasaan aneh itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Sari, meski bercanda, sebenarnya juga penasaran. Ia merasa mimpi Ratna itu bukan kebetulan belaka. Dan tanpa mereka sadari, pagi yang sederhana itu baru saja membuka pintu menuju serangkaian peristiwa yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
---ooOoo---
Hari semakin siang, sinar matahari mulai hangat menyentuh dinding bata merah rumah mereka. Ratna dan Sari masih duduk di bawah pohon rindang itu, cangkir teh sudah kosong, tetapi obrolan mereka belum juga reda.
Ratna berusaha menepis mimpi yang masih menempel di kepalanya, namun sesuatu membuatnya terdiam. Dari arah pagar bambu, seekor kucing belang muncul sambil membawa sesuatu di mulutnya. Kucing itu meletakkan benda itu tepat di bawah meja kayu, lalu melenggang pergi dengan santainya, seakan baru saja selesai menjalankan misi rahasia.
Sari membungkuk, mengambil benda itu. Sebuah kotak kecil dari kardus, agak kusut tapi jelas nyata, bukan bagian dari mimpi. Ia menoleh pada Ratna dengan mata membesar.
"Rat… ini mirip sekali dengan kotak yang kau ceritakan tadi."
Ratna membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat, seperti genderang kecil dipukul berulang. "Tidak mungkin…" bisiknya.
Sari mencoba bersikap santai. "Mungkin kucing ini calon kurir paket. Siapa tahu nanti dia dapat seragam oranye."
Ratna hampir tertawa, tapi wajahnya tetap tegang. "Jangan bercanda dulu, Sar. Bukankah ini terlalu kebetulan?"
Mereka berdua saling berpandangan. Kotak kecil itu kini seakan memancarkan misteri. Entah apa isinya, tapi jelas membuat pagi mereka berubah dari sekadar canda menjadi tanda tanya besar.
"Apa kita buka saja?" tanya Sari dengan gaya berbisik, seolah takut kotak itu punya telinga.
Ratna menelan ludah. "Aku… belum siap."
Sari terkekeh kecil. "Jangan-jangan isinya cuma kacang rebus, lalu kau dramatis sekali."
Namun jauh di dalam hati, ia pun tak bisa menganggap remeh. Kebetulan sebesar ini terlalu aneh untuk diabaikan.
Kotak itu tergeletak di meja kayu, diam, tetapi seakan menunggu momen untuk mengungkap rahasia yang disimpannya.
---ooOoo---
Angin siang berhembus lebih kencang, membuat daun-daun berdesir seperti sedang berbisik. Ratna dan Sari masih menatap kotak kecil di atas meja, seakan itu benda paling berharga di dunia.
"Baiklah," kata Sari akhirnya, "kalau kita terus menatap tanpa membuka, kotak ini bisa jadi sarang laba-laba." Ia menyodoknya pelan dengan jari telunjuk.
Ratna menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk. "Kita buka bersama."
Dengan hati-hati, Sari mengupas perekat yang sudah setengah lepas. Kotak itu berderit sedikit saat dibuka, menimbulkan rasa tegang yang tidak sebanding dengan ukurannya. Mereka berdua menahan napas, lalu…
Di dalamnya hanya ada sebuah buku kecil dengan sampul lusuh. Ratna mengambilnya, membuka halaman pertama. Tulisan tangan memenuhi halaman, rapi namun agak pudar dimakan waktu.
"Ini… catatan harian," bisik Ratna.
Mereka membaca beberapa baris. Ternyata buku itu berisi kisah seseorang yang pernah tinggal di rumah itu puluhan tahun lalu. Ada cerita tentang menanam bunga rambat di sudut halaman, tentang kucing yang selalu datang setiap sore, hingga tentang secangkir teh yang rutin menemani.
Sari terdiam, lalu tertawa kecil. "Jadi, mimpi anehmu mungkin bukan sekadar bunga tidur. Bisa saja semacam pesan, atau sekadar pengingat bahwa setiap tempat punya cerita yang tak pernah benar-benar hilang."
Ratna menutup buku itu pelan. Hatinya masih diliputi rasa penasaran, tetapi juga hangat oleh kesadaran bahwa rumah sederhana ini menyimpan jejak kehidupan yang panjang.
"Kau tahu apa artinya ini?" tanya Ratna.
Sari tersenyum, mengangkat cangkir kosongnya. "Artinya, setiap pagi kita bukan hanya berbagi teh, tapi juga sedang duduk di antara cerita-cerita lama yang ikut hidup bersama kita."
Ratna tertawa kecil, meski matanya berkaca-kaca. Kotak itu memang kecil, tetapi telah membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar: rasa bahwa hidup selalu penuh kejutan, bahkan di halaman rumah sendiri.
---ooOoo---
Komentar
Posting Komentar