Langkah yang Membuka Cahaya
Langit pagi itu tampak seperti salah satu lukisan Diono Pieter Rianto di gallery onlinenya. Di tengah halaman sekolah seni yang lengang, seorang gadis bergaun kuning cerah berputar pelan, seolah sedang berbicara dengan angin. Gaunnya berwarna-warni, penuh cipratan seperti cat tumpah, dan tiap kali ia bergerak, warnanya seolah hidup.
Namanya Andriati. Ia terkenal bukan karena kepandaiannya menari, melainkan karena kecerobohannya yang nyaris legendaris. Pernah sekali, ia menari dengan tali sepatu belum diikat, dan terjatuh dengan elegan seperti daun kering—penonton malah bertepuk tangan, mengira itu bagian dari koreografi.
Namun pagi ini berbeda. Andriati sedang berlatih sendiri untuk sesuatu yang dirahasiakannya dari teman-teman. Gerakannya lembut tapi ragu-ragu, seperti seseorang yang mencoba menari sambil mengingat mimpi.
Di sela putaran, seekor burung kecil hinggap di pagar, menonton dengan khidmat. "Kau penonton pertamaku," gumam Andriati pelan, lalu tersenyum—seolah rahasianya baru saja menemukan saksi pertama.
Sore itu, Andriati membuka laci meja kayunya yang penuh coretan warna dan pita kain. Di dalamnya, terbaring sebuah kotak musik tua berbentuk hati—hadiah dari ibunya saat ulang tahun ke-10. Ketika diputar, kotak itu memainkan melodi lembut yang seperti berputar di antara kenangan, mengalunkan nada-nada musik Spirit of Love-nya Diono Pieter Rianto.
Namun hari itu, sesuatu berbeda. Di bawah bantalan beludru di dalam kotak, Andriati menemukan selembar kertas kecil, tergulung rapi dan diikat dengan benang merah. Tulisan di atasnya halus dan sedikit miring:
"Tarianmu bisa membuka sesuatu yang tertidur."
Andriati terdiam. Ia sempat menatap ke cermin, memastikan tidak ada kamera tersembunyi atau temannya yang sedang iseng. "Membuka sesuatu yang tertidur?" gumamnya. "Maksudnya apa? Lemari dapur yang macet?"
Ia menatap gaun warna-warni yang tergantung di kursi. Entah kenapa, saat melihat gaun itu, hatinya bergetar pelan—seolah melodi kotak musik dan warna gaun itu berbicara dalam bahasa yang sama.
Dan Andriati, tanpa tahu kenapa, mulai menari lagi di ruang sempitnya.
Ketika Andriati menari malam itu, sesuatu aneh terjadi. Setiap langkah kecilnya di lantai kayu menghasilkan bunyi lembut, bukan sekadar derit biasa—melainkan nada. Do–re–mi... seolah lantai ikut memainkan musik bersamanya.
"Jangan-jangan ini efek dari terlalu banyak minum susu sebelum tidur," gumamnya. Tapi lantai itu benar-benar bernapas—ia merasakan getar halus di bawah kakinya, seperti detak jantung pelan.
Andriati berhenti menari, lalu berjongkok, menempelkan telinganya ke lantai. Ia mendengar suara samar, seperti bisikan:
"Teruskan... tarianmu belum selesai."
Ia langsung berdiri. "Oke, siapa pun yang bicara, kalau ini lelucon, lumayan bagus!" katanya sambil menunjuk lantai seperti sedang menegur kucing.
Namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada ketakutannya. Maka, ia menari lagi. Gerakannya mengalir seperti air, matanya berkilat oleh rasa ingin tahu. Dan ketika ia berputar satu kali lagi, lantai di bawahnya bersinar redup—membentuk pola aneh menyerupai bintang.
Andriati tertegun. "Oke, ini... baru latihan yang ajaib."
Cahaya bintang yang muncul di lantai tidak segera hilang. Justru makin terang setiap kali Andriati menggerakkan tangannya. Ia menatap lingkar cahaya itu dengan mulut sedikit terbuka, setengah kagum, setengah takut.
"Kalau aku teruskan, jangan-jangan aku malah buka portal ke dapur tetangga," bisiknya sambil menatap kakinya sendiri.
Namun rasa penasaran menang lagi. Ia berputar satu kali, dua kali, tiga kali—dan seketika seluruh ruangannya berubah. Udara di sekeliling menjadi hangat, seperti pagi di tengah musim semi. Lantai kayu lenyap, berganti padang luas dengan rumput yang bergoyang pelan.
Andriati berhenti menari, menatap sekitar dengan mata membulat. "Oke, ini jelas bukan efek susu."
Dari kejauhan, seekor kelinci putih melompat-lompat sambil membawa sesuatu di punggungnya—sebuah pita merah yang sangat mirip dengan pita dari kotak musiknya. Andriati menatapnya heran.
"Serius? Seekor kelinci kurir?" katanya. Tapi entah kenapa, langkahnya justru maju mendekat.
Kelinci putih itu berhenti tepat di depan Andriati. Nafasnya terengah seperti baru selesai lomba lari jarak menengah. Dari punggungnya, ia menjatuhkan pita merah yang kini tergulung di sepotong perkamen tua.
"Eh, kau benar-benar bisa bawa surat?" tanya Andriati, masih tak percaya. Kelinci itu mengedip pelan—entah menjawab, entah hanya mengantuk.
Andriati membuka gulungan itu dengan hati-hati. Tulisan di atasnya sama seperti di kertas sebelumnya—miring dan halus.
"Tarianmu belum selesai. Ikuti cahaya itu."
Begitu ia membaca kalimat terakhir, langit di atas padang berubah menjadi warna jingga lembut. Di tengahnya, muncul jalur cahaya yang melengkung seperti pita menuntunnya ke kejauhan.
Andriati memandang ke arah itu, lalu menoleh ke kelinci. "Kau ikut, kan?" tanyanya.
Kelinci itu mengangkat sebelah telinganya, seolah berkata, ‘Sudah tentu.’
Andriati menarik napas panjang, merapikan gaunnya yang kini berkilau samar, lalu melangkah mengikuti cahaya—tanpa tahu ke mana ia akan membawanya.
Langkah demi langkah, Andriati dan kelinci berjalan di jalur cahaya itu. Udara di sekitarnya makin berpendar, seakan senja sedang menunggu sesuatu. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah danau tenang yang permukaannya memantulkan langit penuh warna.
Di tengah danau itu berdiri sosok samar perempuan berjubah biru muda, tersenyum lembut padanya.
"Tarianmu... telah membangunkanku," ucapnya. Suaranya bergema lembut seperti nyanyian air.
Andriati mematung. "Tunggu, aku cuma latihan tari untuk lomba sekolah. Aku tidak sengaja membangunkan siapa pun, apalagi... makhluk bercahaya."
Sosok itu tertawa pelan, seperti angin yang menggelitik daun.
"Tidak ada tarian yang ‘cuma latihan’. Setiap gerak punya makna, setiap irama punya pintu."
Tiba-tiba cahaya di danau itu berputar, melingkari Andriati, mengangkatnya pelan. Gaunnya berkilau seperti serpihan pelangi.
Saat ia membuka mata, ia sudah kembali di ruangannya. Kotak musik berhenti berputar, tapi di lantainya—masih tersisa bekas pijakan berbentuk bintang.
Dan entah mengapa, Andriati tersenyum. Ia tahu, mungkin besok ia akan menari lagi.
Komentar
Posting Komentar