Lestari di Balik Timbangan

Pagi itu, pasar seperti biasanya: ramai, semrawut, dan penuh warna. Bau daun pisang, rempah, dan sedikit keringat bercampur menjadi satu, membentuk parfum khas yang hanya bisa ditemukan di pasar tradisional. Di tengah hiruk-pikuk itu, Bu Lestari berdiri di balik lapak sayurnya dengan senyum yang nyaris tak pernah libur.

Ia mengenakan celemek abu-abu yang penuh sejarah tumpahan kuah soto, tangan sibuk menata wortel yang sengaja diberdirikan seperti pasukan parade. "Wortelnya baru panen, Bu. Masih malu-malu kalau dipelototin," ujarnya, menggoda pelanggan yang baru datang, seorang gadis muda bernama Rani.

Rani tertawa kecil. "Kalau gitu, saya beli tiga. Biar bisa saling menyemangati."

Obrolan mereka bukan cuma soal harga tomat atau diskon kangkung. Di sela tumpukan sayur, terselip kehangatan yang tidak dijual di minimarket. Pasar ini bukan hanya tempat transaksi, tapi juga tempat cerita berkembang, pelan-pelan seperti tempe yang dibungkus rapi di pojokan.

Namun hari itu, Bu Lestari menerima sebuah pertanyaan dari Rani yang membuatnya berhenti sejenak: "Bu, ibu ini bahagia nggak jualan terus setiap hari?"

Bu Lestari tersenyum, tapi matanya seperti menyimpan jawaban yang belum ingin dibocorkan.

Dan sejak pertanyaan itu, kisah pun bergulir...

---ooOoo---

Bu Lestari memang terkenal di pasar itu. Bukan karena harga sayurnya paling murah—meski saingannya bilang dia pakai ilmu "tepat pas dompet"—tapi karena senyumnya yang selalu penuh tenaga, yang terlalu semangat.

Setiap pelanggan punya panggilan akrab untuknya. Ada yang menyebutnya "Mami Seledri," ada juga yang suka becanda memanggilnya "Ratu Timun." Bu Lestari tak pernah keberatan. Ia hanya bilang, "Asal jangan panggil saya Ratu Cicilan."

Tapi di balik semua canda dan tawa, sebenarnya tidak banyak yang tahu kehidupan Bu Lestari di luar pasar. Rani, yang belakangan makin sering mampir, mulai memperhatikan. Kadang, setelah pasar mulai sepi dan matahari mulai garuk-garuk awan, Bu Lestari melamun sejenak di balik timbangan. Seperti sedang mengukur sesuatu yang tak bisa ditakar: mungkin rindu, atau kenangan.

Pada suatu pagi, Rani datang lebih awal dari biasanya. Ia membawa sepotong roti keju dan dua gelas kopi susu dalam kantong plastik.

"Ibu belum sarapan, kan?" katanya sambil tersenyum.

Bu Lestari terdiam sejenak. "Wah, kalau ada kopi, rahasia bisa bocor nih…"

Dan begitulah, pagi itu bukan hanya aroma bawang yang menguar, tapi juga cerita-cerita kecil yang mulai mengintip dari balik lapak.

---ooOoo---

Kopi susu di pagi hari itu lebih hangat dari biasanya. Bu Lestari dan Rani duduk di bangku kecil di belakang lapak, diapit oleh ikatan bayam dan selada yang tampak ikut menyimak.

"Aku penasaran, Bu," Rani mulai bicara sambil meniup kopi, "kenapa Ibu selalu kelihatan ceria? Kayaknya nggak pernah capek atau sedih."

Bu Lestari tertawa, lalu menunjuk ke tumpukan tomat. "Lihat tuh tomat. Merah, segar, cantik. Tapi ada juga yang busuk di dalam. Kita nggak tahu sampai dibelah."

Rani mengerutkan kening, mencoba mencerna sambil mengunyah rotinya.

"Aku pernah jadi guru," lanjut Bu Lestari pelan. "Dulu mengajar matematika. Tapi sekarang, aku ngitung cabai aja udah cukup."

Rani melongo. "Serius? Guru matematika jualan wortel?"

"Wortel itu jujur. Kalau jelek, kelihatan. Murid kadang lebih rumit,"

jawab Bu Lestari sambil tertawa kecil.

Rani ikut tertawa, walau ada rasa penasaran yang semakin tumbuh. Ada hal besar yang belum terungkap. Ia yakin, kisah Bu Lestari bukan sekadar soal ganti profesi.

Pagi itu, untuk pertama kalinya, Bu Lestari tidak buru-buru mengemas dagangan. Seolah, cerita yang sudah lama disimpan mulai menemukan pendengarnya.

Dan Rani tahu, ia baru saja mengetuk pintu cerita yang lebih dalam.

---ooOoo---

Sejak percakapan pagi itu, Rani makin sering datang ke lapak Bu Lestari. Bukan cuma belanja sayur, tapi juga menimba kisah—semacam seminar motivasi, tapi dengan bonus seikat kangkung.

Pagi itu, Rani datang membawa buku catatan kecil.

"Ibu, boleh saya tulis kisah Ibu? Untuk tugas kuliah," katanya agak ragu.

Bu Lestari tertawa, "Waduh, nanti saya masuk buku sejarah pasar!"

Tapi ia mengangguk, sambil menyendokkan cabe rawit ke kantong plastik.

"Dulu saya ngajar di sekolah kecil," katanya pelan. "Sampai suatu hari... sekolahnya tutup. Murid-murid pindah, dan saya harus pilih: nganggur atau bergerak."

Rani mencatat cepat, matanya sesekali melirik Bu Lestari. "Terus kenapa pilih jualan?"

"Karena matematika tetap dibutuhkan. Cuma medianya ganti. Dulu pakai papan tulis, sekarang pakai daun singkong."

Rani terkekeh. "Dan tetap pakai hitungan?"

"Tentu. Coba hitung, kalau ibu kasih diskon dua ratus, tapi tomatnya pecah satu, untung atau rugi?"

Mereka tertawa. Tapi Rani tahu, pilihan Bu Lestari tidak mudah. Ada ketegaran yang tidak pernah ditulis dalam rumus. Ada keikhlasan yang tidak bisa diajarkan dalam kelas.

Dan Rani semakin yakin, kisah ini belum selesai. Justru baru mulai menarik.

---ooOoo---

Hari itu langit sedikit mendung, tapi pasar tetap ramai seperti biasanya. Suara tukang ayam bersaing dengan penjual tahu bulat yang entah kenapa selalu percaya diri menyanyi di nada yang tidak pernah pas.

Bu Lestari tampak sibuk menimbang pare. Rani datang sambil membawa bungkusan kecil.

"Nih, Bu. Saya bawain kue dari rumah. Kata Mama, jangan cuma belajar kisah orang, tapi juga kasih rasa manisnya."

Bu Lestari tertawa senang. "Kalau kamu kuliah jurnalistik, pasti bisa jadi wartawan yang bikin narasumber lupa kalau lagi diwawancarai."

Setelah pasar mulai sepi, mereka duduk lagi di belakang lapak.

Rani bertanya dengan hati-hati, "Ibu... nggak pernah kepikiran kembali ngajar?"

Bu Lestari terdiam. Matanya menatap jauh, menembus terpal lapak dan hiruk-pikuk yang sudah reda.

"Aku pernah mencoba, Rani. Tapi kadang dunia punya caranya sendiri untuk bilang: ‘Coba jalur lain, Bu.’ Dulu aku kecewa. Sekarang... aku berdamai."

Tiba-tiba terdengar suara dari ujung lapak, seorang anak kecil berteriak, "Bu Lestari, tomatnya manis! Kaya permen!"

Bu Lestari tertawa. "Lihat? Saya tetap ngajar. Cuma muridnya beda. Medianya... ya, tomat."

Rani tersenyum. Tapi hatinya tahu: ada satu cerita besar yang masih belum terungkap. Sesuatu yang lebih dari sekadar perubahan profesi.

Dan sebentar lagi, kebenaran itu akan muncul seperti mentari dari balik awan mendung.

---ooOoo---

Pagi itu, pasar lebih cerah dari biasanya. Matahari seperti mengintip malu-malu di balik tumpukan kol dan kubis. Rani datang dengan senyum lebar dan kertas bertumpuk di tangannya.

"Bu, saya selesai tulis kisah Ibu. Mau Ibu baca?"

Bu Lestari menyambutnya sambil menyeka tangan di celemek. Ia membaca pelan, matanya bergerak perlahan dari baris ke baris, kadang tersenyum, kadang diam lama.

"Ini... terlalu baik," katanya akhirnya. "Aku bukan pahlawan."

Rani menggeleng. "Ibu bukan pahlawan. Tapi Ibu seperti pelita. Tidak bersinar terang, tapi cukup untuk menerangi jalan orang lain."

Bu Lestari terdiam. Kalimat itu terasa seperti pelukan yang sudah lama ditunggu.

Beberapa saat kemudian, ia mengambil selembar kertas dari dalam tas plastiknya. Kertas itu kuning pucat, sedikit terlipat, seperti surat yang sudah lama menunggu untuk dibuka.

"Ini... undangan reuni dari sekolah lama. Mereka minta aku datang dan berbagi cerita."

Rani menahan napas. "Ibu akan pergi?"

Bu Lestari menatap lapaknya. "Aku akan datang. Tapi bukan untuk mengenang. Untuk mengucap terima kasih. Karena dari sana aku belajar... bahwa hidup tak selalu harus kembali. Kadang cukup berhenti sejenak, lalu melanjutkan, dengan cara yang berbeda."

Mereka tersenyum. Di belakang mereka, suara pasar kembali hidup. Dan kisah Bu Lestari? Mungkin telah ditutup, tapi tidak pernah benar-benar selesai. Ia akan terus tumbuh, seperti daun bawang yang dipotong, tapi selalu bisa tumbuh lagi.

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain Batik dan Rahasia di Balik Pagar

Langkah-Langkah Lela

Cerpen : Sulam Emas Di Ladang Senja