Garis-Garis Petualangan Gobak Sodor
Di sebuah desa kecil yang hangat dan damai, anak-anak berkumpul di halaman lebar dekat pohon jambu yang rindang. Hari itu, langit cerah, angin bertiup pelan, dan suasana seolah tahu: ini waktu yang tepat untuk bermain gobak sodor. Lima anak — Rina, Tarso, Sari, Joni, dan Mira — sudah berdiri di lapangan yang digaris pakai kapur tulis bekas papan tulis SD.
"Siap-siap ya, yang kalah jaga ayam Pak Raji sore ini!" teriak Joni sambil menepuk-nepuk tangannya seperti pelatih sepak bola.
"Wah, kalau gitu aku harus menang. Ayam Pak Raji galaknya kayak mau jadi presiden," kata Tarso dengan wajah serius tapi bikin semua tertawa.
Mereka pun membagi tim. Rina, Sari, dan Mira jadi penyerang; Tarso dan Joni jaga garis. Permainan dimulai dengan teriakan: "Gobak... Sodor!"
Langkah-langkah kecil, lincah, dan cekatan mulai melintasi garis. Rina hampir lolos, tapi Tarso mengejutkannya dengan gerakan ala ninja. Rina terlonjak dan kembali mundur.
Sari menyelinap dari belakang. Mira menahan tawa melihat gaya Joni yang seperti menari saat menjaga garis, padahal kakinya gemetar menahan lapar — belum sempat makan siang, katanya, karena ibunya cuma masak sambel doang.
Permainan belum usai. Tapi sebuah suara mengejutkan mereka dari kejauhan…
---ooOoo---
Suara dari kejauhan itu ternyata... suara perut Joni yang keroncongan. "Dengar nggak?" bisiknya sambil menatap Tarso. "Itu suara perutku manggil sate ayam."
"Kalau itu ayam Pak Raji yang dengar, bisa-bisa dia kabur sendiri," jawab Tarso, dan tawa pun pecah lagi.
Tapi di tengah kekonyolan itu, Mira tiba-tiba terjatuh—bukan karena tersentuh lawan, tapi karena celananya nyangkut akar pohon. "Pohon ini konspirasi sama tim penjaga!" teriaknya dramatis, membuat semua terpingkal.
Mereka rehat sebentar di bawah pohon jambu. Rina mengeluarkan selembar kertas bekas bungkus gorengan. "Aku punya rencana. Kita bikin formasi segitiga terbalik."
"Segitiga kayak apa?" tanya Sari.
"Pokoknya kayak kerucut es krim... tapi melawan hukum fisika," jelas Rina sok ilmiah.
Kertas itu mereka juluki "peta rahasia." Walaupun gambarnya cuma coretan tidak jelas, dengan panah ke mana-mana dan tulisan "Jangan sampai ketangkep!!!" besar-besar di tengahnya.
Setelah semua siap dan perut Joni sedikit tenang karena diberi jambu sebiji, permainan dimulai lagi. Kali ini lebih seru. Sari menyelinap lewat pinggir garis, Mira membuat gerakan tipuan seperti main drama, dan Rina melompat seperti katak belajar parkour.
Tapi di saat semua fokus ke depan... tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.
Siapa yang datang?
---ooOoo---
Langkah kaki itu semakin dekat, dan semua anak langsung menoleh. Ternyata itu Pak Yan, si penjaga sekolah yang dikenal galak kalau urusan lapangan. Ia berdiri dengan tangan di pinggang dan alis yang seolah-olah punya lisensi menuduh siapa saja yang tampak terlalu bahagia.
"Main lagi, ya? Itu kapur dari kelas, kan?" suaranya berat, seperti suara drum yang dipukul pakai sandal.
Anak-anak saling pandang. Joni mencoba jadi juru bicara, walau suaranya lebih mirip suara semut flu. "I-iya, Pak. Tapi kami pinjam sebentar... demi masa depan olahraga tradisional bangsa."
Pak Yan mendekat, lalu jongkok melihat garis-garis kapur. Ia diam sejenak. Tegang. Bahkan daun pun rasanya berhenti bergerak.
Lalu... Pak Yan tersenyum.
"Waktu saya kecil, saya jago gobak sodor. Kalian mainnya bagus, walau strategi kalian... yah, kayak strategi kucing ngejar laser," katanya sambil tertawa.
"Pak Yan... mau main?" tanya Mira iseng.
Semua anak menahan napas. Kalau dia ikut, bisa-bisa garis kapur berubah jadi arena latihan militer. Tapi yang mengejutkan, Pak Yan mengangguk.
"Sebentar. Biar saya buka sandal dulu. Kalau main gobak sodor, harus pakai teknik kaki ayam," katanya, entah maksudnya apa.
Dan mulailah ronde baru — kini dengan tambahan pemain tak terduga. Anak-anak jadi lebih semangat, tapi juga harus ekstra hati-hati... karena "tim dewasa" sudah turun ke lapangan.
Dan ternyata, Pak Yan punya trik-trik lama yang belum mereka kenal...
---ooOoo---
Pak Yan ternyata bukan pemain biasa. Saat permainan dimulai, ia melompat melewati garis seolah sedang ikut audisi sirkus. "Ini namanya jurus lompat karet!" serunya sambil mendarat dengan mantap.
Joni terpana. "Lompatnya kayak jerapah yang baru les parkour," bisiknya pada Tarso.
Tapi Tarso tidak bisa terlalu lama mengomentari. Ia sedang menyusun strategi dalam otaknya yang katanya "sudah di-upgrade setelah nonton kartun semalaman." Ia menggambar skema di tanah pakai ranting. "Rina lewat kiri, Sari pura-pura keseleo, Mira bikin pengalihan dengan nyanyi lagu dangdut."
"Kalau aku?" tanya Joni.
"Kamu tetap di belakang. Kita butuh seseorang untuk... memotret momen kemenangan nanti."
"Lho, emangnya aku kamera?"
Strateginya kacau sejak awal, tapi mereka tertawa bersama dan memutuskan tetap mencobanya. Rina langsung bergerak cepat, Sari mendadak limbung seperti pemeran drama kolosal, dan Mira mulai bernyanyi sumbang dengan penuh semangat.
Pak Yan terdiam, bingung apakah harus menjaga garis atau ikut tepuk tangan.
Tarso melihat celah. Ia menerobos dengan gaya ala ninja karbitan, lalu berhasil lolos ke garis akhir. "YES! Jurus bayangan semangka berhasil!" teriaknya.
"Bayangan semangka itu apa?" tanya Sari.
"Nggak tahu. Tapi keren, kan?"
Tapi kesenangan mereka belum selesai. Karena saat semua sedang tertawa, langit tiba-tiba mendung. Angin bertiup lebih kencang. Dan dari ujung jalan... ada suara gemuruh.
Apakah hujan? Atau... sesuatu yang lebih menantang?
---ooOoo---
Suara gemuruh makin jelas. Semua mendongak bersamaan, seperti aktor dalam film yang tahu waktu dramatik. Awan hitam menggulung pelan, dan tetesan hujan mulai turun satu-satu, seperti mengetuk pelan pipi mereka.
"Huaaa, hujan! Game over!" teriak Joni panik, langsung lari sambil memegangi kepala seolah hujan bisa membocorkan pikiran.
"Tunggu! Belum ada pemenang!" protes Rina, masih berdiri gagah di garis kapur yang mulai memudar.
Pak Yan tertawa sambil merentangkan tangan, menikmati hujan seperti iklan sampo. "Kalian semua pemenang! Soalnya kalian bikin saya merasa muda lagi... meski lutut saya sekarang agak nyeri."
Anak-anak berkumpul di bawah pohon jambu. Mira mengeluarkan plastik kresek dari sakunya — isinya lima gorengan, hasil jajan terakhirnya. "Ini... hadiah perdamaian," katanya sambil membagikan satu-satu.
Mereka makan sambil tertawa, bercanda, dan mendebat siapa yang sebenarnya menang. Tapi tak ada yang benar-benar peduli. Rasa senang hari itu sudah cukup jadi medali.
Sari menatap garis kapur yang kini nyaris hilang tersapu air. "Besok kita main lagi, ya?"
"Bawa payung sekalian,"
jawab Tarso. "Dan karet gelang. Biar bisa bikin jurus baru."Hari itu ditutup dengan tawa, basah kuyup, dan hati hangat. Permainan sudah usai, tapi cerita mereka baru saja dimulai.
TAMAT.
Komentar
Posting Komentar