Jejak Kristal Pohon Tua

Hutan itu masih dipenuhi kabut tipis ketika langkah kuda putih Agnio terdengar berirama di jalan tanah yang lembab. Daun-daun berguguran dari pepohonan tinggi, seakan memberi salam bagi setiap langkahnya. Agnio, dengan jubah merah marun yang berkibar lembut, tampak gagah sekaligus sedikit bingung. Bukan karena ia tersesat, melainkan karena ia lupa apakah sudah menutup pintu rumahnya rapat-rapat sebelum berangkat. "Andai saja pintu rumah bisa menjerit kalau tidak dikunci," gumamnya sambil terkekeh kecil.

Ia menepuk leher kudanya dengan penuh kasih. "Tenang, Arvo, kita pasti menemukan jawaban dari perjalanan ini," katanya. Kuda itu meringkik, entah setuju atau hanya protes karena jalannya agak menanjak. Agnio menghela napas panjang. Perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan sore, melainkan sebuah misi. Namun anehnya, ia sendiri belum benar-benar tahu apa yang sedang ia cari.

Hanya ada satu petunjuk: sebuah gulungan kertas tua yang diselipkan diam-diam di bawah pintu rumahnya seminggu lalu. Gulungan itu hanya berisi gambar pohon besar dengan tanda panah ke arah timur. Agnio tidak tahu siapa pengirimnya. Tapi rasa penasarannya selalu lebih kuat daripada rasa malasnya.

Dan begitulah, petualangan dimulai—dengan segudang pertanyaan dan sedikit bekal roti kering.

---ooOoo---

Agnio menuntun Arvo semakin jauh ke timur, mengikuti petunjuk samar dari gulungan kertas itu. Jalan setapak mulai menyempit, dahan-dahan pohon merunduk seolah ingin mengintip siapa tamu yang lewat. Kadang Agnio merasa pohon-pohon itu berbisik, meski mungkin hanya angin yang terlalu iseng. "Kalau kau mulai dengar mereka menyanyi, Agnio, itu tandanya kau harus tidur lebih awal," katanya pada diri sendiri sambil tertawa kecil.

Setelah hampir setengah hari perjalanan, muncullah sebuah pohon raksasa di hadapannya. Batangnya begitu besar, sampai Agnio berpikir kalau sepuluh orang dewasa bergandengan tangan pun belum tentu cukup untuk memeluknya. "Nah, kalau ini bukan pohon dalam gulungan itu, aku rela jadi tukang sapu di kebun teh," ujarnya sambil menepuk-nepuk debu dari jubahnya.

Arvo mengibaskan ekornya, seakan setuju. Namun, sesuatu yang lebih aneh terjadi: suara lirih terdengar dari balik batang pohon tua itu. Suara itu pelan, hampir seperti bisikan. "Datanglah… lebih dekat…"

Agnio menegakkan tubuhnya. Ia melirik ke kanan, lalu ke kiri. Tidak ada siapa pun. "Kalau ini hanya angin, maka angin sedang punya selera humor," gumamnya. Dengan hati-hati, ia melangkah maju, menahan napas, dan menempelkan telinganya pada batang pohon yang dingin.

---ooOoo---

Agnio menempelkan telinganya pada batang pohon itu, dan kali ini ia benar-benar yakin ada suara. Bukan suara angin, bukan juga suara burung yang sedang bersiul. Suara itu terdengar jelas, meski lirih, seakan datang dari dalam batang pohon. "Agnio… Agnio…"

Ia langsung terperanjat mundur. "Wah, jangan-jangan pohon ini lebih hafal namaku daripada tetangga depan rumah," keluhnya setengah bercanda. Arvo mengangkat kepalanya tinggi, tampak waspada, meski Agnio curiga kuda itu sebenarnya hanya lapar.

Dengan keberanian yang agak dipaksakan, Agnio meraba batang pohon tersebut. Tangannya menemukan sebuah celah sempit yang berbentuk seperti ukiran. Ketika ditekan, terdengar bunyi *klik*. Seketika, sebagian batang itu bergeser membuka, memperlihatkan lorong gelap yang menurun ke bawah tanah.

"Ah, tentu saja. Pohon raksasa ternyata punya pintu rahasia. Besok-besok, jangan-jangan semangka pun bisa punya jendela," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Meski sedikit gugup, rasa penasaran Agnio jauh lebih besar. Ia menyalakan lentera kecil yang selalu ia bawa di pelana Arvo, lalu menatap ke dalam lorong. Ada tangga kayu tua yang melingkar ke bawah, seakan mengajak siapa pun yang berani untuk turun.

Dengan tarikan napas panjang, Agnio berbisik, "Baiklah, kalau ini jebakan, setidaknya aku akan jadi cerita lucu di warung kopi nanti."

---ooOoo---

Tangga kayu berderit setiap kali Agnio menapakinya. "Kalau tangga ini bisa bicara, pasti sudah berteriak ‘tolong turunnya pelan-pelan!’" katanya sambil mencoba menahan rasa deg-degan. Lentera kecil di tangannya berayun, membuat bayangan aneh menari di dinding lorong.

Lorong itu ternyata tidak semengerikan yang ia bayangkan. Dindingnya dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang bercahaya samar, seakan ada bubuk bintang yang menempel di sana. Agnio berhenti sejenak, menatap kagum. "Kalau ini hasil karya tukang ukir, dia pasti orang yang sangat rajin… atau orang yang sangat bosan," gumamnya.

Setelah beberapa puluh anak tangga, Agnio tiba di sebuah ruangan luas di bawah tanah. Ruangan itu bundar, dengan pilar-pilar batu yang berjajar rapi. Di tengah ruangan terdapat meja batu, dan di atasnya tergeletak sebuah benda kecil berkilau, mirip kristal.

Agnio melangkah mendekat dengan hati-hati. Arvo, yang ditinggalkan di luar, sempat terbayang dalam pikirannya. "Kalau kudaku bisa bicara, dia pasti berkata: ‘Jangan disentuh, bodoh!’"

Namun, tentu saja Agnio tetap mengulurkan tangan. Rasa penasarannya mengalahkan segalanya. Tepat ketika ujung jarinya hampir menyentuh kristal itu, terdengar suara batuk pelan dari sudut ruangan.

Agnio membeku. "Astaga… bahkan di bawah tanah begini pun ada orang yang lupa menutup mulut saat batuk?"

---ooOoo---

Agnio menoleh cepat ke arah suara batuk itu. Dari balik salah satu pilar batu, muncul sosok tua dengan janggut panjang sampai hampir menyentuh lantai. Pakaiannya lusuh, tapi matanya berkilau seperti baru saja meneguk segelas teh manis.

"Siapa kau?" tanya Agnio, mencoba terdengar berwibawa, padahal dalam hati ia lebih ingin lari.

Sosok itu tersenyum tipis. "Aku penjaga kristal ini. Sudah lama aku menunggu seseorang datang… meskipun jujur saja, aku kira orangnya akan lebih tinggi."

Agnio melongo. "Lebih tinggi? Aku bahkan sudah susah payah pakai sepatu dengan sol tebal, tahu!"

Penjaga itu terkekeh. "Tenang, Nak. Tinggi badan tidak penting. Yang penting adalah keberanian dan rasa ingin tahumu. Itu sebabnya kau bisa sampai di sini."

Agnio menoleh pada kristal. "Kalau begitu, boleh aku ambil? Soalnya aku sudah turun tangga banyak sekali, kalau cuma dapat ucapan selamat datang agak rugi."

Sosok tua itu mengangguk, tapi wajahnya berubah serius. "Kau boleh menyentuhnya, tapi bersiaplah. Kristal ini bukan sekadar batu indah. Ia menyimpan sesuatu yang bisa mengubah perjalananmu selamanya."

Agnio menelan ludah. "Perjalanan berubah? Mudah-mudahan berubah jadi lebih ringan, soalnya kakiku sudah pegal semua."

---ooOoo---

Dengan tangan sedikit gemetar, Agnio akhirnya menyentuh kristal itu. Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan dinginnya, seberkas cahaya terang langsung menyala, memenuhi ruangan bundar itu. Agnio sampai menutup mata rapat-rapat. "Waduh, kalau begini caranya, aku lebih baik bawa kacamata hitam," keluhnya.

Saat cahaya mereda, Agnio melihat kristal itu melayang pelan di udara. Dari dalamnya keluar bayangan berupa peta, tapi bukan peta biasa. Peta itu menampilkan jalur-jalur aneh yang seakan berubah-ubah, seolah menguji siapa pun yang melihatnya.

Penjaga tua itu tersenyum. "Itulah petunjuk perjalananmu selanjutnya. Kau tidak hanya diminta menemukan pohon ini, tapi juga menjelajahi rahasia yang tersembunyi di luar sana."

Agnio menatap peta itu dengan mata berbinar. "Jadi, ini artinya petualanganku baru saja dimulai?"

"Benar," jawab sang penjaga. "Dan setiap langkah akan membawa kejutan. Ada yang lucu, ada yang membingungkan, tapi semua akan membentuk kisahmu sendiri."

Agnio menarik napas panjang, menepuk dadanya, lalu tersenyum. "Baiklah, dunia. Siap atau tidak, aku datang. Tapi tolong, semoga jalannya tidak menanjak terus. Kakiku bisa protes."

Dengan itu, ia menggenggam kristal, cahaya berpendar di tangannya, dan perjalanan baru Agnio pun resmi dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini